Laporkan Masalah

IRONI DAN KERENTANAN DALAM DEMOKRASI ELEKTORAL: REPRODUKSI KEKUASAAN POLITIK KLAN

MUHAMMAD RIDHA T.R., Prof. Dr. Purwo Santoso, M.A.,

2017 | Tesis | S2 Politik dan Pemerintahan

Tulisan ini berusaha untuk berhati-hati dalam menyusuri perjalanan demokratisasi di Indonesia. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa, dalam perjalanan tersebut masih terdapat ironi dalam demokrasi di Indonesia. kalaulah norma demokrasi prosedural telah diberlakukan, tidak tertutup kemungkinan bahwa tatanan yang telah lama bercokol, dan tersembunyi dibalik tatanan yang disebut sebagai demokrasi elektoral. Dalam tulisan ini, tatanan lama ini terrefleksi dari munculnya politik klan dalam kontestasi demokrasi electoral. Para aktor politik klan malah dengan mudah bersembunyi dibalik pilihan demokrasi electoral. Hal ini menunjukkan pilihan demokrasi ini yang justru membawa berbagai macam bangunan, yang justru menunjukkan adanya kerentanan dalam pilihan demokrasi di Indonesia itu sendiri. Data yang disusun dalam penelitian ini, diperoleh melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, wawancara mendalam, studi dokumen, dan observasi lapangan. Hasilnya, penelitian ini menunjukkan bahwa, transformasi kekuasaan dominan yang dimiliki oleh Itoc Tochija menjadi kekuasaan yang hegemonik dilakukan dengan cara membangun wacana-wacana yang muncul berdampingan dengan distribusi sumber daya ekonomi kepada masyarakat dan seluruh jejaring patron yang dimiliki Itoc Tochija. Sembari melakukan pembagian materi kepada masyarakat dan jejaring patron lainnya, ada wacana-wacana yang disisipkan didalamnya dan terus menerus direpitisi sehingga menjadi tatanan yang bercokol dalam benak masyarakat. Nilai-nilai kedermawanan, keberhasilan, perhatian, walikota yang memenuhi kebutuhan masyarakat, walikota yang merangkul semua kalangan, serta bapak pembangunan kota Cimahi adalah konsensus yang terbentuk dalam pikiran masyarakat ketika melihat sosok Itoc Tochija. Kesimpulannya adalah dalam proses demokrasi elektoral di Kota Cimahi terdapat pemelintiran makna dan wacana terhadap nilai-nilai yang seharusnya menjadi landasan pijakan bagi demokrasi elektoral yang dibayangkan secara ideal oleh para pengusungnya. Dan ketidaksesuaian antara bayangan ideal mengenai demokrasi elektoral dengan kenyataan yang terjadi, khususnya di Kota Cimahi menjadi bukti adanya kerentanan dalam proses demokrasi elektoral itu sendiri.

This paper seeks to be careful in following the journey of democratization in Indonesia. The aim is to show that, in that journey there is still irony in democracy in Indonesia. Even if procedural democratic norms have been enforced, it is likely that the long-standing order remains in place, And hidden behind the so-called electoral democracy. In this paper, this old order is reflected in the rise of clan politics in the contestation of electoral democracy. The clan's political actors can easily hide behind electoral democracy. This shows that the choice of procedural democracy model applied in Indonesia is actually bringing various order, which actually shows the existence of vulnerability in the choice of democracy in Indonesia itself. The data compiled in this study, obtained through qualitative approach with case study method, in-depth interview, document study, and field observation. As a result, this study demonstrates that the transformation of the dominant power possessed by Itoc Tochija into a hegemonic power is made by building up discourses that emerge side by side with the distribution of economic resources to the people and the entire network of patrons owned by Itoc Tochija. While doing the distribution of material to the community and other patron networks, there are discourses that are inserted therein and continuously replicated so that the order is entrenched in the minds of the people. The values of generosity, success, attention, the mayor who meets the needs of society, the all-embracing mayor, and the father of Cimahi city development are the consensus formed in the minds of the people when they look at the figure of Itoc Tochija. The conclusion is that in the process of electoral democracy in Kota Cimahi there is a twisting of meanings and discourses on values that should be the basis for an electoral democracy ideally conceived by its bearers. And the discrepancy between the ideal image of electoral democracy and the reality, especially in Kota Cimahi, is evidence of vulnerability in the electoral democratic process itself.

Kata Kunci : Dominasi, Hegemoni, Politik Klan, Demokrasi Elektoral

  1. S2-2017-355328-abstract.pdf  
  2. S2-2017-355328-bibliography.pdf  
  3. S2-2017-355328-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2017-355328-title.pdf