PERBANDINGAN KUALITAS HIDUP PASIEN EPILEPSI YANG MENDAPAT MONOTERAPI DAN POLITERAPI
PANDE AYU NAYA K P, Dr. Erna Kristin, M.Si., Apt.
2018 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan BiomedisLatar Belakang Tujuan utama penanganan epilepsi adalah mengontrol kejang tanpa efek samping dengan kualitas hidup yang optimal. Dalam penatalaksaannya, monoterapi hingga saat ini masih menjadi pilihan farmakoterapi yang terbaik dan sangat disarankan ketika memulai OAE. Jika monoterapi dengan suatu OAE tidak efektif, yang harus dilakukan berikutnya adalah menggantinya dengan OAE lain atau menambah obat lain dalam kombinasi atau politerapi. Tujuan Untuk membuktikan bahwa pasien epilepsi yang mendapat monoterapi memiliki kualitas hidup yang lebih tinggi daripada politerapi. Metode Penelitian ini menggunakan metode potong lintang dengan menggunakan pasien epilepsi yang menggunakan obat-obat anti epilepsi minimal 1 tahun. Data demografis, klinis, dan terapi dikumpulkan melalui rekam medis. Nilai kualitas hidup diukur dengan menggunakan kuisioner QOLIE-31. Hasil Penelitian ini dilakukan di Poliklinik Neurologi, RSUD Wangaya Kota Denpasar pada bulan Oktober 2017. Di antara 83 pasien epilepsi, 44,6% menggunakan monoterapi dan 53,4% menggunakan politerapi. Total skor QOLIE-31 pada 83 pasien epilepsi adalah 70,29+-12,98. Analisis bivariat menunjukkan pekerjaan, bebas kejang dan jenis terapi mempengaruhi kualitas hidup pasien epilepsi. Pasien epilepsi yang menggunakan monoterapi memiliki skor kualitas hidup yang lebih tinggi daripada pasien epilepsi yang menerima politerapi pada semua domain dan total skor (monoterapi 73,75+-10,93 and politerapi 67,50+-13,90) yang diukur dengan menggunakan kuisioner QOLIE-31, namun secara statistik bermakna signifikan (nilai p<0,05) hanya pada domain energy dan total skor. Analisis multivariat menunjukkan bebas kejang dalam 6 bulan menunjukkan pengaruh yang paling besar dalam kualitas hidup pasien epilepsi. Kesimpulan Kualitas hidup pasien epilepsi yang mendapat monoterapi lebih tinggi daripada pasien epilepsi yang mendapat politerapi.
Background The goal of epilepsy treatment is no seizure and no adverse effect with optimal quality of life. In its management, monotherapy is still the best choice of pharmacotherapy and highly recommended when starting treatment. If monotherapy with an anti epilepsy is not effective, the next thing to do is to replace it with another anti epilepsy or add another drug in combination or politherapy. Objective This study compared the quality of life between epileptic patient received monotherapy and polytherapy. Method In this cross sectional study, patient with epilepsy receiving anti epilepsy drug for at least 1 years were enrolled. Demographic, clinical, and treatment parameters were recorded. QOL was measured using the modified Quality of Life in Inventory-31 (QOLIE-31) questionnaire for epilepsy. Result This study was conducted in Neurology Policlinic, Wangaya Hospital Denpasar on October 2017. Among 73 epileptic patients, 44.6% patients were using monotherapy and 53.4% patients were using polytherapy. The total QOLIE score of 83 epileptic patients was 70.29 +-12.98. Bivariate analysis showed that occupation, seizure remission, and type of therapy had significant influence for quality of life in epileptic patients. Epileptic patients who received monotherapy have higher score than epileptic patient who received polytherapy in all domain and total score (monotherapy 73.75+-10.93 and polytherapy 67.50+-13.90) measured by QOLIE-31, but statistically significant (P value <0.05) only in energy domain and total score. Multivariate analysis showed that seizure remission in last 6 months had the most significant influence for quality of life in epileptic patients. Conclusion Epileptic patients on monotherapy have better quality of life than epileptic patients on polytherapy.
Kata Kunci : epilepsi, kualitas hidup, monoterapi, politerapi, epilepsy, quality of life, monotherapy, polytherapy.