Konstruksi Pengetahuan Perempuan dalam Gerakan Tolak Pabrik Semen di Rembang
MADE DIAH PITALOKA NEGARA PUTERI, Prof. Dr. Partini,S.U
2018 | Tesis | S2 SosiologiINTISARI Skema pembangunan masih dirasakan timpang karena hanya bertumpu pada aspek ekonomi tanpa mempertimbangkan aspek ekologis, sosial maupun budaya. Gerakan tolak pabrik semen Rembang muncul sebagai respon dari pembangunan yang timpang. PT. Semen Indonesia menyasar Pegunungan Kendeng untuk kebutuhan pertambangan dan pembangunan pabrik semen. Pegunungan Kendeng ini memiliki potensi karst yang tergolong unggul. Kawasan karst berfungsi sebagai penyimpan cadangan air yang kemudian menjadi jantung kehidupan bagi beberapa desa, diantaranya desa Tegaldowo dan Timbrangan. Kehidupan mayoritas warga desa bertumpu pada sector pertanian yang membutuhkan suplai air yang tinggi. Berangkat dari persepektif ekofeminisme yang melihat interdependensi antara perempuan, alam dan pembangunan, maka fokus penelitian ini lebih menekankan pada posisi perempuan sebagai korban pembangunan. Isu kelangkaan air ini terutama dirasakan oleh para ibu yang dilekatkan pada tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan harian rumah tangga. Bayang-bayang ancaman ekologis menghantarkan para ibu di barisan depan perlawanan terhadap pembangunan pabrik semen. Pemosisian perempuan di garda depan perlawanan membawa corak yang khas dalam gerakan tolak pabrik semen. Pengetahuan akan kelekatan perempuan dengan alam dan konstruksi pengetahuan perempuan dalam gerakan tolak pabrik semen menjadi fokus permasalahan yang diuraikan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan konstruksi sosial Peter Berger dan Thomas Luckmann guna melacak pengetahuan terkait kelekatan perempuan dengan alam. Pengetahuan ini terletak dalam pengalaman kebertubuhan perempuan sehari-hari. Pengetahuan perempuan tersebut kemudian menghantarkan pada konstruksi pengetahuan perempuan dalam gerakan tolak pabrik semen. Penggalian pengalaman dan penghayatan sehari-hari dimungkinkan melalui pendekatan fenomenologi. Fenomenologi dirasa tepat untuk menangkap proses pembentukan kesadaran manusia atau dinamika yang terjadi pada level mikro subyek. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kelekatan perempuan dengan alam dipupuk dari peran domestiknya sebagai pemenuh kebutuhan harian. Temuan dalam penelitian ini meliputi dua pola konstruksi pengetahuan antara keterkaitan ibu, alam dan gerakan perlawanan, yakni reproduksi pengetahuan dan produksi pengetahuan. Koherensi nilai yang mendarat pada praksis kehidupan dimaknai sebagai reproduksi pengetahuan. Nilai tersebut merujuk pada nilai dalam Sedulur Sikep, yakni manunggalitas manusia Jawa dengan alamnya serta alam secara khusus dipersonifikasikan sebagai tubuh perempuan. Sedangkan, produksi pengetahuan menyajikan pengetahuan baru dari nilai yang selama ini hidup dalam kultur setempat. Pengetahuan baru ini mentransformasi stereotip perempuan macak, masak, manak menjadi perempuan yang berdaya di ruang publik. Kata kunci: gerakan tolak pabrik semen, konstruksi sosial, fenomenologi
Since New Order era, Indonesia has been doing massive development, particularly in extractive industries. Economic has played fundamental role in development scheme. It caused imbalanced for any other aspect, such as social, cultural and ecological. The past few decades, we have witnessed an enormous conflict between local people against mining corporate across many region in Indonesia. One of the well-known ecological movement was conducted by local people from Tegaldowo and Timbrangan, Rembang. They protested against PT. Semen Indonesia that took over Kendeng's Mountain for mining. Kendeng's Mountain has most important role at least in four region, Pati, Blora, Rembang and Grobongan, because it contains karst that accommodates water for daily supply. Majority of people in Tegaldowo and Timbrangan live from agriculture sector. As much as we know, agricultural needs high supply of water, so the issue of water scarcity was unbearable to them, especially women. This research used Ecofeminism as a perspective to considered interdependency between women, nature and development. Javanese women has been traditionally attached by domestic role. They have responsibility to serves food for entire family, nurture / foster their child and husband. The risk of ecological crisis brought local women to the front line of ecological movement. Women's presence at ecological movement has an unique approach to protest and unique perspective toward their nature. This study emphasize on how resistancy against PT. Semen Indonesia was driven by women's knowledge. This research used social contruction of reality by Peter Berger and Thomas Luckmann in order to have deeper understanding of women's knowledge toward their nature. For methodological approach, I used phenomenology to analyze women's structure of consciousness. Findings of this study showed that intimacy between women and nature was built by their dominant role in domestic area. Women can fulfilled their role by collecting harvest in their field and collecting clean water to wash dishes, clothes, feed the cattle and family. Doing routine as a Javanese women has led women to experienced nature in special connection. Another findings were related to reproduction of knowledge and production of knowledge. Reproduction of knowledge was rooted in coherency between values that live inside their village and their praxis on everyday lives. Those values referred to Sedulur Sikep beliefs that human and nature was inseparable, there is nature inside human and vice versa. Other value that lived was women is personification of nature because they have the same rhythm of reproduction/ regenerate. Production knowledge indicates that new value was built from ecological movement. That new value overcome domestic role of women, which is expanding sphere for women in public area. Keyword: Social Movement, Social Construction, Phenomenology.
Kata Kunci : gerakan tolak pabrik semen, konstruksi sosial, fenomenologi