Laporkan Masalah

DAYA SAING EKSPOR BIJI KAKAO INDONESIA

MUTMAINNAH, Irham; Suhatmini Hardyastuti

2018 | Tesis | S2 MANAJEMEN AGRIBISNIS

Kakao merupakan salah satu hasil perkebunan Indonesia yang cukup potensial dan merupakan salah satu komoditas ekspor. Produksi kakao Indonesia pada tahun 2014 mencapai 728.414 ton dan menempatkan Indonesia sebagai salah satu sumber penting ketersediaan pasokan bahan baku. Menurut International Cocoa Organzation (2012), pada tahun 2011 Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana, serta tertinggi pertama di Asia. Namun demikian Indonesia masih memiliki permasalahan terkait komoditas biji kakao, yaitu rendahnya produktivitas tanaman (dibawah 900 kg/ha), sedangkan Pantai Gading produktivitasnya mencapai 1,5 (ton/ha). Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui daya saing ekspor biji kakao Indonesia ditinjau dari segi keunggulan komparatif dan (2) mengethui daya saing ekspor biji kakao Indonesia dari segi keunggulan kompetitif. Data yang digunakan adalah data Time Series dari tahun 2001-2016. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2001-2010 memiliki nilai diatas 1 yang menunjukkan bahwa ekspor biji kakao Indonesia memiliki keunggulan komparatif, namun pada tahun 2011-2016 nilai ekspor biji kakao Indonesia mengalami penurunan dibandingkan Pantai Gading, Ghana dan Malaysia. Dalam hal ini bahwa ekspor biji kakao Pantai Gading, Ghana dan Malaysia memiliki daya saing yang kuat dibandingkan Indonesia sehingga menempatkan negara tersebut memiliki keunggulan komparatif yang sangat tinggi sebagai pengekspor biji kakao. Berdasarkan analisis RCA Indonesia di dapatkan bahwa pada tahun 2001-2010 Indonesia memiliki keunggulan kompetitif dan spesialisasi pada komoditas biji kakao dengan Pantai Gading, Ghana dan Malaysia. Sedangkan pada tahun 2011-2016 Indonesia tidak memiliki keunggulan kompetitif dan spesialisasi pada ekspor biji kakao dengan Pantai Gading, Ghana dan Malaysia. Untuk analisis ISP, pada periode 2001-2013 nilai ISP berkisar antara -1 dan 1, maka ekspor biji kakao Indonesia mempunyai daya saing yang kuat atau Indonesia cenderung sebagai negara pengekspor, sedangkan pada tahun 2014-2016 nilai ISP negatif, maka Indonesia merupakan negara pengimpor.

Cocoa is one of the potential plantations of Indonesia and is one of the export commodities. Indonesia's cocoa production in 2014 reached 728,414 tons and placed Indonesia as one of the important sources of supply of raw materials. According to International Cocoa Organization (2012), in 2011 Indonesia is the third largest cocoa producer in the world after Ivory Coast and Ghana, as well as the first highest in Asia. However, Indonesia still has problems related to cocoa beans commodity, namely the low productivity of plants (below 900 kg/ha), while the Ivory Coast productivity reached 1.5 (ton/ha). This research aims to (1) determine the competitiveness of Indonesian cocoa beans export in terms of comparative advantage and (2) determine the competitiveness of Indonesian cocoa beans export in terms of competitive advantage. The data used is Time Series data from 2001-2016. The data analysis method used is Revealed Comparative Advantage analysis (RCA) and Index of Trade Specialization (ISP). The results showed that during the period 2001-2010, the export of Indonesian cocoa beans has a value above 1 indicating that it has a comparative advantage, but in 2011-2016 the value of Indonesian cocoa beans exports decreased compared to Ivory Coast, Ghana and Malaysia. In this case, the exports of Cocoa beans Ivory Coast, Ghana and Malaysia have stronger competitiveness compared to Indonesia so that it puts those countries to have a very high comparative advantage as an exporter of cocoa beans. Based on the analysis of RCA Indonesia found in 2001-2010, Indonesia has a competitive advantage and specialization in cocoa beans with Ivory Coast, Ghana and Malaysia. While in 2011-2016 Indonesia does not have any competitive advantage and specializes in the export of cocoa beans compared to Ivory Coast, Ghana and Malaysia. For ISP analysis, in 2001-2013, ISP values ranged between -1 and 1, so Indonesian cocoa beans export has a strong competitiveness or Indonesia tends to be an exporting country, while in 2014-2016 the value of ISP is negative, therefore Indonesia is an importing country

Kata Kunci : biji kakao, daya saing, Revealed Comparative Advantage, Indeks Spesialisasi Perdagangan

  1. S2-2018-373834-abstract.pdf  
  2. S2-2018-373834-bibliography.pdf  
  3. S2-2018-373834-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2018-373834-title.pdf