Analisis Sinergitas Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pemerintah Kabupaten, dan UKM di Gunungkidul Dalam Pengembangan Ekonomi Lokal Dengan Pendekatan Triple Helix
HERI KUSMANTA, S.E, Dr. Nunuk Dwi Retnandari, MS
2018 | Tesis | S2 Administrasi PublikTesis ini mendiskusikan mengenai sinergi antara beberapa aktor dengan pendekatan Triple Helix. Pendekatan Triple Helix merupakan pendekatan sinergi positif antara tiga aktor yang berbeda dalam kapasitas program dan tupoksi yang mereka punyai. Model ini menunjukkan aktor-aktor yang bersinergi dalam rangka Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) di kabupaten Gunungkidul antara lain Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (BPTBA-LIPI) sebagai wakil universitas sebagai sentra riset, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dalam Pemerintah Kabupaten dan Usaha Kecil Menengah (UKM). Sinergitas ini dapat dilihat melalui tiga aspek yaitu komunikasi, koordinasi dan alih teknologi. Pola hubungan sinergi itu dilihat dari bagaimana komunikasi antar pemangku kepentingan yaitu komunikasi antara OPD dalam pemerintahan kabupaten Gunungkidul, komunikasi antara OPD dengan BPTBA-LIPI, komunikasi antara OPD dengan UKM dan komunikasi antara BPTBA-LIPI dengan UKM, dan bagaimana koordinasi antara OPD dalam pemerintahan kabupaten Gunungkidul, koordinasi antara OPD dengan BPTBA-LIPI, koordinasi antara OPD dengan UKM dan koordinasi antara BPTBA-LIPI dengan UKM dan bagaimana alih teknologinya. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang memahami secara mendalam tentang objek yang diteliti. Data dalam penelitian ini diperoleh dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan cara wawancara yang mendalam, sedangkan data sekunder adalah data yang didapatkan dari lingkaran luar objek penelitian seperti peraturan perundang-undangan dan arsip atau catatan organisasi. Penelitian ini juga menggunakan sumber literatur sebagai sumber referensi untuk menguatkan berbagai argumentasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa Komunikasi dan koordinasi antar pemangku kepentingan sudah berjalan dengan baik walau terdapat beberapa kendala seperti mensinkronisasikan waktu yang terbentur dengan kesibukan dan masih adanya tumpang tindih kepentingan diantara OPD yang terlibat dalam pembinaan UKM. Dalam hal alih teknologi tidak ada kendala yang berarti dan masih belum terlaksananya tata administrasi dengan baik. Penelitian ini merekomendasikan agar meningkatkan komunikasi antar pemangku kepentingan agar informasi yang diberikan dapat diterima dengan baik, koordinasi harus lebih diperhatikan agar tidak terjadi tumpang tindih dalam membina UKM, pembenahan dalam administrasi terutama tentang penatausahaan surat menyurat. Hal ini berdasar bahwa surat menyurat merupakan bentuk komunikasi itu memiliki kekuatan hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. Dan dalam Alih teknologi perlu adanya pelatihan-pelatihan cara pengoperasian alat produksi. Untuk meningkatkan kamampuan UKM perlu diadakan sosialisasi yang berkaitan dengan proses produksi, pengikutsertaan pameran, dan study banding dengan UKM lintas provinsi perlu ditingkatkan lagi.
This thesis discusses the synergy between several actors with Triple Helix approach. The Triple Helix approach is a positive synergy approach between three different actors in the capacity of the program and basic tasks and functions they have. This model shows the synergy actors in the context of Local Economic Development (LED) in Gunungkidul Regency such as Research Unit for Natural Product Technology, Indonesian Institute of Sciences (BPTBA-LIPI) as university representatives as research center, Regional Work Organization (Organisasi Perangkat Daerah / OPD) in Regency Government and Small and Medium Enterprises (SMEs). This synergy can be seen through three aspects: communication, coordination and transfer of technology. The pattern of synergy relationship is seen from communication between stakeholders is communication between OPD in Gunungkidul regency government, communication between OPD and BPTBA-LIPI, communication between OPD with SMEs and communication between BPTBA-LIPI with SMEs, and coordination between OPD in Gunungkidul regency government, coordination between OPD and BPTBA-LIPI, coordination between OPD and SMEs and coordination between BPTBA-LIPI with SMEs and how technology transfer. This research is descriptive research by using qualitative approach with deep understanding of the object under study. Data in this research is obtained from primary and secondary data. Primary data obtained by in-depth interview, while the secondary data is data obtained from the outer circle of research objects such as legislation and records or organizational records. This study also uses literature sources as a reference source to corroborate various arguments. This research indicates that communication and coordination among stakeholders are running well despite some obstacles such as synchronizing time constrained with busyness and still overlapping interests among OPDs involved in SMEs development. In the case of technology transfer there are no significant constraints and the good administration is not yet well implemented. This research recommends to improve communication among stakeholders so that the information given is well received, the coordination should be paid more attention so as not to overlap in developing SMEs, improvements in administration especially regarding the administration of correspondence. It is based on that the correspondence is a form of communication that has legal force that can be accounted for. And in technology transfer there is need of training how to operate of production equipment. To improve the ability of SMEs to be held socialization related to the production process, exhibition participation, and comparative study with SMEs across provinces need to be improved again.
Kata Kunci : Pemangku Kepentingan, Triple Helix, Pengembangan Ekonomi Lokal / Stakeholders, Triple Helix, Local Economic Development