NILAI DIAGNOSTIK ASPIRASI JARUM HALUS PADA LESI PAYUDARA DI RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN
ADITYA BAGAS CASWITA, dr. Hanggoro Tri Rinonce, Sp.PA, Ph.D ; dr. Ery Kus Dwianingsih, Sp.PA, Ph.D
2018 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLatar Belakang : Lesi payudara termasuk lesi yang paling sering terjadi pada perempuan. Pada lesi tersebut dilakukan pemeriksaan patologi anatomi untuk menentukan ganas atau jinak dan jenisnya. Pemeriksaan yang menjadi baku emas adalah pemeriksaan histopatologi. Namun pemeriksaan histopatologi dengan open biopsy merupakan tindakan invasif sehingga pemeriksaan sitopatologi dengan menggunakan metode aspirasi jarum halus (AJH) lebih banyak dilakukan sebagai alternatif. Akan tetapi, cukup banyak klinisi yang meragukan nilai diagnostik AJH. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi nilai diagnostik AJH di Instalasi Patologi Anatomi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Hasil evaluasi tersebut dapat dijadikan dasar bagi klinisi untuk memilih rekomendasi pemeriksaan penunjang pada pasiennya. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai diagnostik AJH sebagai pemeriksaan sitopatologi dibandingkan dengan pemeriksaan histopatologi pada pasien dengan lesi payudara di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data sekunder yang diperoleh dengan memanfaatkan data rekam medis pemeriksaan histopatologi dan sitopatologi di Instalasi Patologi Anatomi RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten. Rekam medis yang digunakan adalah rekam medis tahun 2015-2016 dengan jumlah sampel sebanyak 145 data. Diagnosis sitopatologi dan diagnosis histopatologi yang terkumpul dibandingkan untuk menentukan nilai diagnostik AJH pada lesi payudara di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro, Klaten. Hasil : Pada pemeriksaan histopatologi, lesi jinak berjumlah 80 kasus (55,17%) dan lesi ganas berjumlah 65 kasus (44,83%). Lesi jinak terbanyak adalah lesi fibrokistik berjumlah 46 kasus (57,50%), sedangkan lesi ganas terbanyak adalah karsinoma duktal invasif berjumlah 47 kasus (72,31%). Pada pemeriksaan sitopatologi, lesi jinak berjumlah 91 kasus (62,76%) dan lesi ganas berjumlah 54 kasus (37,24%). Terdapat 19 diagnosis sitopatologi yang tidak sesuai dengan diagnosis histopatologinya, dengan 4 diagnosis menunjukkan hasil positif palsu dan 15 diagnosis menunjukkan hasil negatif palsu. Nilai positif dan negatif palsu ini berkontribusi pada perbedaan 11 angka pada klasifikasi jinak dan ganas pada kedua pemeriksaan. Dari angka tersebut diperoleh nilai sensitivitas 76,9%, nilai spesifisitas 95%, nilai ramal positif 92,6%, nilai ramal negatif 83,5%, dan akurasi 86,9%. Kesimpulan : AJH memiliki nilai spesifitas, nilai ramal positif, nilai ramal negatif, dan akurasi yang tinggi. Namun nilai sensitivitasnya masih cukup rendah. Rendahnya nilai sensitivitas disebabkan karena sejumlah hasil negatif palsu. Sehingga AJH cukup baik untuk digunakan sebagai media rule in. Tetapi perlu adanya evaluasi untuk menurunkan angka negatif palsu agar memiliki kemampuan rule out yang sama baiknya.
Background : Breast lesion is the most common lesion in woman. This lesion must be evaluated with pathological examination to detect whether the lesion is benign or malignant. The gold standard for pathological examination is histopathological examination. However, open biopsy is an invasive procedure. So, Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) is preferred to be used as an alternative. In other hand, some clinicians argue that FNAB has low diagnostic value. This research is intended to confirm diagnostic value of FNAB in Anatomical Pathology Department, dr. Soeradji Tirtonegoro Hospital, Klaten. The result from this research can be used by clinicians to give recommendation for their patients about the supporting examination. Objective : To determine the diagnostic value of FNAB as the cytopathological examination for patient with breast lesion in Soeradji Tirtonegoro Hospital, Klaten compared with histopathological examination as gold standard. Method : This research was descriptive study using secondary data from histopathology and cytopathology medical record in Anatomical Pathology Department, dr. Soeradji Tirtonegoro Hospital, Klaten. We used 145 data that collected from 2015 – 2016 medical record. Then, we compared the cytopathological diagnosis with histopathological diagnosis from the data for determining diagnostic value of FNAB in dr. Soeradji Tirtonegoro Hospital, Klaten. Results : In histopathological examination, there were 80 benign cases (55,17%) and 65 malignant cases (44,83%). The most benign lesion was fibrocystic change with 46 cases (57,50%) and the most malignant lesion was invasive ductal carcinoma with 47 cases (72,31%). In cytopathological examination, there were 91 benign cases (62,76%) and 54 malignant cases (37,24%). There were discordance in 19 cases between histopathological and cytopathological examination, with 4 false positive cases and 15 false negative cases. From those numbers, the sensitivity, specificity, positive predictive value, negative predictive value, and accuracy for FNAB were 76,9%, 95%, 92,6%, 83,5%, and 86,9%. Conclusion : FNAB had high value of specificity, positive predictive value, negative predictive value, and accuracy. But, the sensitivity value was low. The low sensitivity of FNAB was caused by high number of false negative results. So, FNAB was good for ruling in but unsatisfying for ruling out breast lesion. Evaluation for false negative results should be done to fix up this problem.
Kata Kunci : Aspirasi jarum halus (AJH), open biopsy, sitopatologi, histopatologi, nilai diagnostik