Implementasi Kebijakan Gerakan Literasi Sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya
ENNY SUPRIHATIN, Prof. Partini, S.U., Ph.D
2018 | Tesis | S2 Kajian Budaya dan MediaGLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang berupaya menjadikan semua warganya menjadi literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan implementasi kebijakan gerakan literasi sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya berdasarkan teori Edward III yang mengangkat empay isu pokok yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi serta akan mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambatnya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian dilakukan di SMA Negeri 5 Surabaya selama bulan Juni - Agustus 2017. Subjek penelitian adalah kepala sekolah, kepala perpustakaan, koordinator tim literasi, guru, tenaga kependidikan, dan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Sedangkan keabsahan data menggunakan trianggulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Program yang menunjang kebijakan gerakan literasi di SMA Negeri 5 Surabaya adalah reading group, hallo brow...?, library corner, dan cangkrukan. Perpustakaan juga memiliki kegiatan pemilihan pengunjung dan peminjam terbanyak, hari kunjung perpustakaan, bulan bahasa, dan wakaf buku. 2) Implementasi kebijakan didukung oleh (a) komunikasi para agen pelaksana melalui rapat kerja, rapat manajemen, rapat orang tua, dan rapat guru; (b) sumber daya yang mendukung kegiatan adalah potensi guru, sumber dana dari pemerintah, sekolah, orang tua, sponsor. 3) Faktor pendukung berupa tersedianya sarana untuk mensosialisasikan kebijakan, hibah buku dari orang tua, alokasi waktu dan dana, semangat guru dalam belajar dan mengajar, bantuan dari mahasiswa PPL, dan keterlibatan seluruh warga sekolah. Sedangkan faktor penghambatnya adalah guru harus diingatkan terkait SOP kebijakan dan program yang harus dilakukan, jumlah buku kurang memadai, surat edaran untuk orang tua seringkali lupa disampaikan oleh siswa, keterbatasan waktu untuk membuat poster dan undangan, belum dilakukan evaluasi dan monitoring pelaksanaan suatu program. Solusi dari hambatan ketersediaan buku adalah siswa membawa buku dari rumah masing-masing untuk kegiatan literasi, informasi pada orang tua dilakukan dengan memanfaatkan media sosial whatsapp, mengadakan pelatihan dan seminar pada guru dan tenaga kependidikan berkaitan dengan gerakan literasi, kepala sekolah membentuk tim monitoring dan evaluasi pada setiap program yang dilaksanakan.
GLS is an effort to help build literacy culture among school members. The aim of this research is to describe the implementation of school literacy movement at SMA Negeri 5 Surabaya based on the theory of Edward III on 4 issues, i.e. communication, resources, disposition, and bureaucracy structure and describe the supporting and inhibiting factors. The implemented method was qualitative descriptive. The research was done at SMA Negeri 5 Surabaya in June until August 2017. The subjects of the research were the school principal, head of library, literacy team coordinator, teachers, academic staff, and students. The data were collected through interviews, observations, and document analysis. To ensure data validity, source and method triangulation were conducted. The results of the research showed that 1) The programs supporting school literacy policy at SMA Negeri 5 Surabaya were reading group, Hallo Brow?, library corner, and cangkrukan. The library also held some events, i.e. an award for its member who borrowed the most books, library visit day, language month, and book donation. 2) The policy implementation was supported by (a) communication among agents through regular meetings, management meetings, parents meeting, and teachers meeting; (b) the supporting resources were teachers potential, fund from the government, school, parents, and sponsor; (3) The supporting factors were the availability of facilities to socialize the policy, book grant from parents, time and fund allocation, teachers enthusiasm in learning and teaching, helps from field-practice university students, and the involvement of whole school members. Meanwhile, the inhibiting factors were the need to remind teachers on SOP (Standard Operation Procedure) and the planned programs, the insufficient number of books, missing notification letters for the parents, limited time for poster and invitation design, and no program monitoring and evaluation. The solution related to book insufficiency was that the students were asked to bring their own books. Then, information was shared to parents through an app chat, WhatsApp. The school provided literacy-related trainings and seminars for teachers and academic staff. The school principal initiated a monitoring and evaluation team on each school program.
Kata Kunci : Implementasi, Kebijakan, Implementasi Kebijakan, Gerakan Literasi Sekolah, SMA Negeri 5 Surabaya