HUBUNGAN PATRON-CLINET DALAM KORUPSI POLITIK DI BANTEN
FARIZ FACHRYAN, Prof. Dr. Sunyoto Usman, M.A.
2018 | Tesis | S2 SosiologiPenelitian ini bertujuan untuk memahami bentuk dan proses korupsi di provinsi Banten, serta hubungan patron-client yang dikembangkan untuk melakukan monopoli dan manipulasi tindakan korupsi politik. Penelitian ini diselenggarakan di Jakarta. Pendekatan penelitian menggunakan model studi kasus penggunaan dana Infrastuktur dan pemanfaatan dana bansos. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu putusan pengadilan sebagai rujukan utama. Kemudian langkah selanjutnya diawali dengan mereduksi data, menyajika data lalu menarik kesimpulan dan memferifikasi. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. Pertama, eksistensi relasi patron-client sangat erat kaitannya dengan korupsi politik. Dua unsur tersebut merupakan unsur yang saling menguatkan serta saling mendukung. Korupsi politik tidak akan terjadi tanpa adanya relasi patron-client. Begitu juga dengan patron tidak akan kuat jika tidak ditopang oleh korupsi politik. Kedua, patron yang berasal dari kepala daerah cenderung menyalahgunaan kekuasaannya. Patron akan menggunakan kewenangannya untuk memaksakan kemauannya kepada orang lain. Kekuasaan tersebut pada akhirnya ditujukan untuk menentukan tindakan sesorang atau kelompok lain agar sesuai dengan tujuan dari patron itu sendiri. Ketiga, status ekonomi client akan menentukan relasi jangka panjang atau relasi jangka pendek antara patron-client. Relasi patron dengan pengusaha akan berbeda dengan relasi patron kepada masyarakat biasa. Client yang mempunyai modal ekonomi kuat mempunyai relasi jangka panjang. Sedangkan client yang tidak mempunya modal ekonomi hanya mempunyai relasi jangka pendek. Keempat, dalam sebuah korupsi politik yang masif dan terstruktur, pasti ada peran yang vital dari seorang broker. Broker lah yang menjadi aktor penting kesuksesan patron dalam mempertahankan kekuasannnya. Untuk mendukung kesuksesan patron, broker membentuk lapisan jaringannya yaitu broker pertama dan broker kedua. Kelima, patron dengan sengaja menciptakan ketergantungan client. Ketergantungan ini membuat client tunduk terhadap permintaaan patron. Ketergantungan ini sengaja diciptakan untuk mempertahankan relasi yang tidak seimbang antara patron dengan client.
The objective of the present study to understand the form and process of corruption in Banten Province, and the patron-client relation developed to monopolize and manipulate political corruptions. This study was performed in Jakarta. The approach of the study was a case study model of the usage of infrastructure fund and utilization of social aid fund. This study used secondary data of court ruling as the main reference. The next step started with reducing data, presenting data, and drawing conclusion and verifying. The research results are as follows. First, the existence of patron-client relation was closely related with political corruption. Both elements reinforced and supported each other. Political corruption would not happen without patron-client relation. Similarly, patrons would be weak if not supported by political corruption. Second, regional head patrons tended to abuse their powers. Patrons would use their authorities to force their wills on others. The power was eventually displayed to determine someone's or another group's actions to be in accordance with the patrons objectives. Third, client's economic status determined long term relation or short term relation between patron and client. A patron relation with a businessperson was different from a patron relation with civilian. Clients who had strong economic capital had long term relations, while clients without economic capital only ha short term relations. Fourth, in a massive and structures political corruption, there was a vital role or a broker. Broker was an important actor in a patron success in maintaining their power. To support the patron success, brokers created a network of the first broker and the second broker. Fifth, patrons deliberately created clients dependency. The dependency made the clients obey the patrons requests. The dependency was deliberately created to maintain the unequal relations between patrons and clients.
Kata Kunci : korupsi politik, patron-client, infrastruktur, bantuan sosial