Laporkan Masalah

Zonasi Ruang Berbasis Pengurangan Risiko Bencana Pada Kawasan Bahaya Bencana Banjir Di DAS Wae Apu, Pulau Buru

RIZKI ADRIADI G, Prof. Dr. rer. nat. Muh Aris Marfai, M.Sc; Dr. Slamet Suprayogi, M.S.

2018 | Tesis | S2 Geografi

Daerah Aliran Sungai Wae Apu merupakan salah satu DAS Prioritas Nasional dan kawasan yang ditetapkan sebagai lumbung pangan yang memproduksi 60% beras untuk Provinsi Maluku. Selain memiliki potensi sumberdaya alam yang besar, DAS Wae Apu juga merupakan daerah rawan banjir luapan sungai, dimana bencana banjir terjadi hampir setiap tahun. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengkaji bahaya banjir di DAS Wae Apu, (2) menyusun tingkat risiko bencana banjir di DAS Wae Apu, dan (3) menyusun zonasi ruang berbasis pengurangan risiko bencana di kawasan bahaya banjir, sehingga dapat menyelamatkan aktivitas sosial-ekonomi dan ketahanan pangan di Pulau Buru. Model bahaya banjir diperoleh melalui pemodelan hidrolika dua dimensi menggunakan perangkat lunak HEC-RAS 5.1. Tingkat risiko bencana banjir diperoleh melalui analisis tumpang susun antara tingkat bahaya banjir dengan tingkat kerentanan. Zonasi ruang berbasis pengurangan risiko bencana banjir diperoleh melalui analisis tumpang susun antara peta tingkat bahaya bencana banjir, peta jenis penggunaan lahan, dan peta tingkat risiko bencana banjir. Rekomendasi strategi pengurangan risiko bencana banjir diperoleh melalui analisis triangulasi antara strategi eksisting, strategi penanganan berdasarkan literatur, dan strategi penanganan berdasarkan kebijakan/peraturan yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat bahaya banjir tinggi dan ekstrim tersebar pada berbagai penggunaan lahan di Kecamatan Teluk Kayeli, Waeapo, dan Kecamatan Waelata, termasuk 877,21 Ha lahan sawah dan 25,96 Ha lahan permukiman; (2) Kawasan dengan risiko tinggi terhadap bencana banjir adalah lahan permukiman dan pertanian di Desa Waenetat; (3) Strategi untuk mengurangi risiko bencana banjir, antara lain: (a) strategi adaptasi melalui mekanisme pengaturan peruntukan ruang, konstruksi/ rekayasa teknis, dan pemilihan vegetasi yang bertujuan meningkatkan daya tahan dan daya lenting lahan produktif terhadap bencana banjir, serta mengoptimalkan kawasan lindung dan kawasan non produktif sebagai komponen pengurangan risiko bencana banjir; (b) strategi relokasi dan alih fungsi penggunaan lahan melalui penentuan syarat lokasi permukiman kembali dan rekomendasi alih fungsi penggunaan lahan yang tidak sesuai pada kelas bahaya banjir tinggi.

Wae Apu Watershed is one of the national priority watersheds in Indonesia which is producing 60% rice for Maluku Province. In addition, to having potentially great natural resource, the floodplain of Wae Apu watershed is also a flood-prone area where floods occur almost every year. Spatial zoning based on disaster risk reduction aims to: (1) assess the flood hazard in the Wae Apu watershed, (2) assess the flood risk in the Wae Apu watershed, and (3) arrange disaster-based zoning in flood-hazard areas, thus saving socio-economic activities and eradicating disease on the Buru Island. The flood hazard model obtained through two-dimensional hydraulic modeling using HEC-RAS 5.1 software. The level of flood risk is obtained through an overlay analysis between the flood hazard level and the degree of vulnerability. Spatial-based zoning of flood risk reduction obtained through an overlay analysis among the flood hazard, land use, and flood risk. Recommendations for flood risk reduction strategies were obtained through triangulation analysis among the existing strategies, literature based strategies, and the applicable policies/ regulations. The results shows that: (1) high and extreme flood hazard levels scattered in various land use in districts of Teluk Kayeli, Waeapo, and Waelata, including 877.21 Ha of paddy fields and 25.96 Ha of settlement; (2) Areas with high risk for flood are settlement and agricultural land in Waenetat Village; (3) Strategies to reduce the risk of flood disaster including: (a) adaptation strategy through spatial arrangement mechanism, construction/ technical engineering, and vegetation selection aimed at improving resilience and resilience of productive land for flood disaster, and optimizing protected area and non- productive as a component of disaster risk reduction; (b) relocation strategy and land use function through resettlement location determination and recommendation of land use change which is not suitable for high hazard class of flood.

Kata Kunci : Pemodelan Bahaya Banjir, Zonasi Ruang, DAS Wae Apu


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.