Laporkan Masalah

EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIK EMPIRIS DAN ANALISIS BIAYA PADA PASIEN DEMAM TIFOID DI INSTALASI RAWAT INAP RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

HANANUN ZHARFA H, Ika Puspita Sari, M.Si., PhD., Apt.; dr. Titik Nuryastuti, M.Si., PhD., SpMK.

2018 | Tesis | S2 Magister Farmasi Klinik

Demam tifoid disebabkan bakteri S. typhi sehingga dalam terapi diperlukan antibiotik. Antibiotik harus digunakan dengan bijaksana secara rasional. Pemakaian antibiotik yang tidak rasional dapat meningkatkan mortalitas, morbiditas, penyebaran penyakit menular dan biaya perawatan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rasionalitas penggunaan antibiotik, hubungan antara rasionalitas antibiotik terhadap biaya dan outcome terapi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan metode cross sectional. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif di RSI Sultan Agung Semarang. Data yang dianalisis berasal dari data rekam medis dan faktur rekap keuangan pasien demam tifoid periode April- September 2017 yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien yang memenuhi kriteria analisis dilakukan analisis deskriptif, rasionalitas antibiotik dengan metode Gyssens menggunakan pedoman terapi Kemenkes (2006) dan WHO (2011) serta analisis hubungan rasionalitas dengan biaya dan outcome terapi. Data rasionalitas dengan biaya dianalisis dengan uji statistik Mann Whitney sedangkan data rasionalitas dengan outcome terapi dengan uji statistik Fisher. Hasil penelitian terdapat 98 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dengan jumlah kasus sebanyak 180 buah. Kasus terdiri atas 98 regimen antibiotik di bangsal dan 82 regimen antibiotik obat pulang. Persentase rasionalitas penggunaan antibiotik di bangsal pada pasien demam tifoid di instalasi rawat inap RSI SA sebanyak 20 kasus (20,4%) rasional dan 78 kasus (79,6%) tidak rasional. Rasionalitas penggunaan antibiotik pulang yaitu 6 kasus (7,3%) rasional dan 76 kasus (92,7%) tidak rasional. Ketidakrasionalan ini meliputi kategori IV A (antibiotik lain yang lebih efektif), kategori IV C ( Ada antibiotik lain yang lebih murah), kategori III B (durasi terlalu singkat), Kategori II A (dosis tidak tepat) dan kategori IIB (Interval pemberian tidak terpat). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan antara rasionalitas terhadap biaya antibiotik (p<0,05). Namun tidak terdapat hubungan antara rasionalitas terhadap outcome terapi yang dianalisis berdasarkan pernyatan dokter (p>0,05).

The treatment of typhoid fever, which is caused by the bacteria S. typhi, requires wise and rational use of antibiotics. Irrational use of antibiotics may increase mortality, morbidity, the spread of (infectious) diseases, and healthcare costs. This study aims to understand the suitability of antibiotics use, the relationship between antibiotics rationality and costs as well as therapy outcomes. This study is an observational study that uses a cross sectional method. Data collection was done retrospectively in RSI Sultan Agung Semarang. The analysed data was collected from medical records and financial recap invoices of typhoid fever patients that fulfil the inclusion criteria. Data from patients that fulfil the criteria were used to perform descriptive analysis, analysis of antibiotics rationality using the Gyssens method, and to study the relationship between rationality and healthcare costs as well as therapy outcome. Data on rationality and costs were analysed using the Mann Whitney statistical test, while data on rationality and therapy outcomes were analysed using Fisher’s exact test. In total, 180 cases were evaluated during this study: 98 regimen from medication in inpatient care facilities and 82 regimen from medication through take-home medicines. 20,4% of the cases from medication in inpatient care facilities in RSI Sultan Agung were considered rational cases, while 79,6% were considered irrational. 7,3% of the cases from medication through take-home medicines were considered rational, while 92,7% were considered irrational. There is relationship between rationality and antibiotic costs (P<0,05) but rationality does not have relationship between rationality and outcome therapy (doctor’s statment) (P>0,05).

Kata Kunci : rasionalitas, antibiotik, tifoid, Gyssens, analisis biaya


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.