Laporkan Masalah

KELAYAKAN DAN STRATEGI PENGEMBANGAN USAHATANI BUNGA POTONG KRISAN DI KOTA TOMOHON

CHRISTY LAGANA, Prof. Dr. Ir. Dwidjono Hadi Darwanto, MS. ; Prof. Dr. Ir. Masyhuri

2018 | Tesis | S2 MANAJEMEN AGRIBISNIS

Krisan adalah salah satu komoditas florikultura yang sangat diminati masyarkat dan menjadi populer karena banyaknya jenis serta keindahan baik bentuk maupun warnanya. Kota Tomohon merupakan salah satu daerah di Propinsi Sulawesi Utara yang cukup potensial untuk pengembangan bunga potong krisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan usahatani krisan di Kota Tomohon serta untuk merumuskan strategi yang tepat dalam pengembangan usahatani krisan. Metode dasar yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. Sampel diambil sebanyak 26 petani dengan metode simple random sampling dari 4 Kelurahan pada Kecamatan Tomohon Utara, yang merupakan sentra usahatani krisan di Kota Tomohon. Pendekatan biaya dan pendekatan pendapatan adalah pendekatan yang digunakan untuk mengetahui besarnya tingkat biaya dan pendapatan usahatani krisan yang ada di Kota Tomohon. Untuk mengetahui kelayakan usahataninya digunakan analisis rasio R/C, analisis rasio pi/C dan analisis Break Even Point (BEP), sedangkan untuk merumuskan strategi pengembangan digunakan analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukan bahwa besarnya biaya usahatani adalah Rp 128.330.475,42 per usahatani per tahun, dan pendapatannya mencapai Rp 169.750.054,50 per usahatani per tahun. Hasil analisis kelayakan menunjukkan bahwa usahatani krisan di Kota Tomohon memiliki rasio R/C 2,63 (R/C > 1), rasio pi/C 113,58% (pi/C > 9%), dan BEP yang layak. BEP penerimaan Rp. 27.472.521,11 (penerimaan usahatani Rp. 274.086.000,00 per tahun), BEP produksi 9.156 tangkai (produksi usahatani 91.362 tangkai per tahun), dan BEP harga Rp. 1.142,01/tangkai (harga Rp. 3.000 per tangkai). Dengan demikian, usahatani krisan di Kota Tomohon menguntungkan dan layak untuk dikembangkan. Berdasarkan hasil analisis SWOT, strategi yang tepat untuk pengembangan usahatani krisan adalah strategi S-O, strategi yang mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif dengan memanfaatkan kekuatan dan peluang.

Chrysanthemum is one of the floriculture commodities that people are interested and popular due to its many species and its beautiful shape and colour. Tomohon is a town in North Sulawesi Province that having a potential to develop cut flower chrysanthemum. This research was aimed to determine the feasibility of chrysanthemum farming in Tomohon and also to formulate the appropriate strategy for the development of chrysanthemum farming. The basic method is descriptive analysis method. The sample was taken 26 respondents with simple random sampling from 4 Village on Sub-district of North Tomohon, that is the centre of chrysanthemum farming in Tomohon. Cost and income approach were used to identify costs and income of chrysanthemum farming in Tomohon. Feasibility of chrysanthemum farming was analyzed using R/C ratio, pi/C ratio and break-even point (BEP) analysis, while to formulate the development strategy used SWOT analysis. The results of the research indicated that cost for the chrysanthemum farming was Rp. 128,330,475.42 per farming per year and its income reached Rp. 169,750,054.50 per farming per year. The result of feasibility study indicated that chrysanthemum farming in Tomohon had R/C ratio 2.63 (R/C >1), pi/C ratio 113.58% (pi/C>9%), and feasible BEP. BEP of revenue Rp. 27,472,521.11 (farming revenue Rp. 274,086,000.00 per year), BEP of production 9,156 stems (production 91,362 stems per year) and BEP of price Rp. 1,142.01 per stem (price Rp. 3,000.00 per stem). Therefore, chrysanthemum farming in Tomohon is profitable and feasible to develop. Based on the results of SWOT analysis, the appropriate strategy for the development of chrysanthemum farming is S-O strategy, a strategy that supports an aggressive growth policy by utilizing the power and opportunities.

Kata Kunci : Bunga krisan, kelayakan usahatani, analisis SWOT, Tomohon


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.