Laporkan Masalah

ANALISIS PERILAKU INVESTASI ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK-ANAKNYA DAN KEBIJAKAN PENGALIHAN SUBSIDI BBM UNTUK PENDIDIKAN ANAK-ANAK DI RUMAH TANGGA MISKIN

ADJI PRATIKTO, Prof. Dr. Samsubar Saleh., M.Soc., Sc.; Dr. Rimawan Pradiptyo, M.Sc.; Dr. Elan Satriawan, M.Ec.

2018 | Disertasi | S3 Ilmu Ekonomi

Pendidikan merupakan salah satu aspek terpenting dalam kehidupan seseorang karena akan mempengaruhi kehidupannya ke arah yang lebih baik di masa yang akan datang. Mereka akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, perkawinan yang lebih baik dan lain sebagainya. Akan tetapi untuk rumah tangga miskin, kemiskinan yang dialami oleh orang tua akan menghalangi mereka untuk mengakses pendidikan yang diinginkan bagi anak-anak mereka, sehingga mereka tidak mampu bersaing di pasar tenaga kerja. Oleh karena itu peran pemerintah dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan yang mampu diakses oleh rumah tangga miskin menjadi satu kebutuhan dalam mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Penyediaan sarana dan prasarana pendididkan tersebut perlu didukung oleh orang tua, karena preferensi orang tua memainkan peran yang sangat penting dalam pengambilan keputusan untuk menyekolahkan anak- anaknya. Hal ini dikarenakan orang tua menjadi sumber utama pembiayaan pendidikan anak-anaknya, khususnya untuk pendidikan dasar dan menengah. Disertasi ini akan terdiri dari 2 esai yaitu mengenai kebijakan pengalihan subsidi BBM untuk penyediaan sarana dan prasarana pendidikan bagi rumah tangga miskin dan pengambilan keputusan orang tua terkait dengan tingkat pendidikan anak-anaknya. Esai pertama dilandasi pemikiran bahwa orang tua di rumah tangga miskin masih memiliki kendala dalam mengakses tingkat pendidikan yang diinginkan untuk anak-anaknya. Oleh karena itu anak-anak di rumah tangga miskin tidak menikmati pendidikan yang lebih baik, sehingga mereka tidak mampu untuk bersaing di pasar tenaga kerja. Ketidak mampuan mereka untuk bersaing di pasar tenaga kerja akan membuat mereka menerima upah yang lebih rendah, sehingga mereka akan menjadi miskin seperti orang tua mereka. Untuk memutus lingkaran setan kemiskinan ini, dibutuhkan peran pemerintah untuk menyediakan sarana dan prasarana pendidikan yang mudah diakses oleh rumah tangga miskin. Di dalam penelitian ini akan dilakukan simulasi kebijakan pengalihan subsidi BBM untuk pendidikan anak-anak di rumah tangga miskin pada tahun 2010 dan tahun 2014. Kebijakan pengalihan subsidi BBM tersebut dilakukan dengan melakukan kompensasi transfer uang terhadap rumah tangga miskin untuk mempertahankan tingkat pengeluaran konsumsi mereka dan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan bagi rumah tangga miskin melalui subsidi bagi sektor jasa pendidikan pemerintah. Dengan demikian diperkirakan sektor jasa pendidikan pemerintah mengalami penurunan harga akibat adanya penambahan subsidi untuk sektor tersebut. Penghitungan penurunan harga akibat penambahan subsidi di sektor jasa pendidikan pemerintah dilakukan dengan menggunakan angka pengganda input (input multiplier) dari data Input-Output tahun 2010 dan 2014. Dari hasil penelitian tersebut disimpulkan bahwa kebijakan pengalihan subsidi BBM pada tahun 2010 dan tahun 2014 memiliki dampak yang lebih besar terhadap rumah tangga tidak miskin dibandingkan dengan rumah tangga miskin. Hal ini dikarenakan rumah tangga tidak miskin memiliki struktur pengeluaran konsumsi yang lebih besar untuk bahan bakar minyak dan pendidikan. Pada tahun 2010, kompensasi yang diberikan oleh pemerintah belum mampu untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rumah tangga, sehingga seluruh rumah tangga mengalami penurunan tingkat kesejahteraan. Hal ini berbeda dengan kondisi tahun 2014, di mana kebijakan pengalihan subsidi BBM tersebut mampu untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rumah tangga, baik rumah tangga miskin maupun rumah tangga tidak miskin. Akan tetapi rumah tangga tidak miskin mengalami peningkatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga miskin, sehingga meningkatkan ketimpangan yang terjadi secara signifikan. Esai kedua akan meneliti pengaruh kemampuan kognitif anak terhadap keputusan orang tua dalam menyekolahkan anak-anaknya. Hal ini dilakukan karena kemampuan kognitif anak akan mempengaruhi expected outcomes dari investasi pendidikan orang tua terhadap anak-anaknya tersebut. Penelitian ini mengasumsikan bahwa expected outcomes merupakan akumulasi sumberdaya manusia yang dihasilkan dari investasi orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya, di mana akumulasi sumberdaya manusia tersebut akan mempengaruhi kesejahteraan anak-anak di masa yang akan datang. Utilitas orang tua akan dipengaruhi oleh tingkat kesejahteraan anak-anaknya tersebut, sehingga orang tua akan berusaha untuk memaksimumkan utilitasnya dalam melakukan investasi pendidikan terhadap anak-anaknya. Pada dasarnya orang tua memiliki preferensi untuk menghindari ketimpangan tingkat kesejahteraan anak-anaknya akibat dari investasi pendidikan tersebut. Akan tetapi kadangkala orang tua memberikan bobot yang berbeda terhadap expected outcomes yang dimiliki oleh anak-anaknya. Dengan demikian interaksi antara penghindaran ketimpangan dan pemberian bobot terhadap expected outcomes yang dimiliki oleh anak- anaknya akan menentukan pengambilan keputusan orang tua dalam tingkat pendidikan anak-anaknya untuk memaksimumkan utilitasnya. Di dalam penelitian ini dihasilkan kesimpulan bahwa orang tua di rumah tangga Indonesia mengambil strategi netral dalam investasi pendidikan untuk anak-anaknya, di mana kemampuan kognitif anak tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pendidikan anak tersebut. Hal ini berarti orang tua berusaha untuk mengalokasikan sumberdaya yang sama tanpa melihat perbedaan kemampuan kognitif anak-anaknya. Salah satu temuan yang cukup menarik dalam penelitian ini ialah bahwa faktor jender memiliki pengaruh yang signifikan, di mana anak perempuan memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudara laki-lakinya. Hal ini menarik karena dari perspektif ilmu ekonomi, anak perempuan dipersepsikan memiliki expected outcomes yang lebih rendah dibandingkan dengan anak laki-laki. Persepsi ini timbul karena banyak temuan di dalam penelitian yang memperlihatkan bahwa rata-rata tingkat upah pekerja perempuan lebih rendah dibandingkan dengan pekerja laki- laki. Oleh karena itu, kemungkinan orang tua mengambil strategi kompensasi dalam investasi pendidikan terkait dengan jender anak-anaknya tersebut. Selain itu, ditemukan bukti pula bahwa orang tua di rumah tangga Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap beasiswa dari institusi lain di luar sekolah. Dengan demikian anak yang menerima beasiswa dari institusi lain akan memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan saudaranya yang tidak menerima beasiswa. Akan tetapi yang cukup menarik adalah bahwa faktor beasiswa dari sekolah, dalam bentuk pengurangan biaya sekolah, tidak memiliki pengaruh yang signifikan. Hal ini berarti pengurangan biaya sekolah masih belum mampu untuk mendorong orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Orang tua masih memiliki ilusi uang (money illusion) terkait dengan beasiswa untuk anak-anaknya tersebut, sehingga pengurangan biaya sekolah tersebut tidak memberikan insentif sebesar beasiswa dari institusi lain dalam menyekolahkan anak-anak mereka.

Education is one of the most important aspects in a persons life because it will affect his life for their future life. They will have the opportunity to get a better job, better marriage and so on. For poor households, the poor parents will have difficulties in providing the better education for their children. Their children will have low skill, so they can be an unskilled labor and can not compete in the labor market. Therefore, the role of government in providing educational facilities and infrastructures which can be accessed by poor households, becomes a necessity in supporting sustainable economic development. The provision of educational facilities and infrastructure by government, needs to be supported by parents, because parents preferences play a very important role in their childrens education especially for primary and secondary education. Parents become the main source of financing their childrens education. This dissertation will consist of two essays, namely the policy reform of fuel subsidy for the provision of educational facilities and infrastructure for poor households and parents decision-making in determining the level of education of their children. The first essay is based on the idea that parents in poor households still have constraints in accessing the desired level of education for their children. Therefore children in poor households will not have a better education, so they are unable to compete in the labor market. Their inability to compete in the labor market will make them receive a lower wage, so they will be as poor as their parents. To break this vicious cycle of poverty, it takes the government's role to provide educational facilities and infrastructure which are easily accessible to poor households. This research will be simulated the policy reform of fuel subsidy for education of children in poor households in 2010 and 2014. The policy reform of fuel subsidy is done by compensating money transfer to poor household to maintain their consumption expenditure level and the provision educational facilities and infrastructure for poor households through subsidies for the government education services sector. Thus, it is estimated that the government education service sector has decreased in price due to the addition of subsidies for the sector. The calculation of the decrease in price due to the addition of subsidies in the government education service sector is done by using the input multiplier from Input- Output data in 2010 and 2014. From the results of this stud, we can concluded that the policy reform of fuel subsidy in 2010 and 2014 have a greater impact on non-poor households compared with poor households. Non-poor households have a larger consumption spending for fuel and education. In 2010, the compensation provided by the government has not been able to improve the welfare of all households, so that all households experienced a decrease in the level of welfare. This is different from the condition of 2014, where the policy reform is able to improve the welfare of all households, both poor and non- poor households. However, non-poor households experienced a much greater increase compared to poor households, resulting in significant increases in inequality. The second essay will examine the effect of the childs cognitive ability on the decision of the parents in determining the level of education of their children. Cognitive abilities will affect the expected outcomes of their education�s investment on their children. This study assumes that the expected outcomes are the accumulation of human resources resulting from parents' investment in their childrens education, where the accumulation of human resources will affect their childrens welfare in the future. The utility of parents will be affected by the welfare of their children, so parents will try to maximize their utility in determining the level of their childrens education. Basically parents have a preference to avoid the inequality level of their childrens welfare as a result of their investment. However, sometimes parents give different weight to expected outcomes owned by their children. Thus the interaction between avoidance of inequality and weighting of expected outcomes owned by their children will determine the decision of parents in the level of their childrens education. In this study we conclude that parents in Indonesian households adopt a neutral strategy in educational investment for their children, where the childs cognitive ability has no significant role on the level of childs education. This means parents are trying to allocate the same resources regardless of the difference in their childrens cognitive abilities. One of the most interesting findings in this study is that gender have a significant influence, in which girls have higher levels of education compared to their brothers. This is interesting because from an economic perspective, girls are perceived to have lower expected outcomes compared to boys. This perception arises because many findings show that the average wage rate of female workers is lower than male workers. In addition, there is also evidence that parents in Indonesian households still have dependence on scholarships from other institutions outside the school. Thus, the children receiving scholarships from other institutions will have higher levels of education compared to those who did not receive the scholarships. However, the scholarship from the school, in the form of school cost reduction, has no significant effect. This means that school cost reductions have not been able to encourage parents to send their children to school. Parents still have the illusion of money associated with the scholarship for their children, so the reduction of the school fees does not provide an incentive as much as a scholarship from other institutions in sending their children to school.

Kata Kunci : Education is one of the most important aspects in a persons life because it will affect his life for their future life


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.