PEMBERDAYAAN KADER SEHAT MATA DALAM PROGRAM SCREENING KEBUTAAN ANAK DI KABUPATEN BANTUL
VIDYA ANANDA, Prof. Dr. Suhardjo, S.U, Sp.M (K) ; dr. Widyandana, MHPE, Ph. D
2018 | Skripsi | S1 PENDIDIKAN DOKTERLatar belakang: Kasus kebutaan anak usia 5-14 tahun di Indonesia pada tahun 2013 mencapai 4.802 kasus. Kebutaan anak terjadi di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Bantul. Pada tahun 2016 Kabupaten Bantul memiliki jumlah penduduk usia 0-19 tahun sebanyak 263.449 jiwa, namun belum ada data epidemiologi kebutaan anak di kabupaten tersebut. Maka dari itu, diperlukan penelitian ini untuk mengetahui prevalensi kebutaan pada anak berumur 0-19 tahun dan deteksi dini pada kesehatan mata anak yang melibatkan peran masyarakat sebagai kader sehat mata untuk mengetahui gangguan penglihatan yang dapat menimbulkan kebutaan beserta penyebabnya. Tujuan: Mengetahui prevalensi kebutaan anak di Kabupaten Bantul dan mendeskripsikan penyebab kebutaan anak di Kabupaten Bantul. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan rancangan cross sectional. Populasi penelitian adalah semua anak yang berusia 0-19 tahun yang tinggal di Kabupaten Bantul yang diskrining oleh kader sehat mata. Sampel penelitian adalah semua anak berusia 0-19 tahun yang diperiksa kemampuan penglihatannya di pemeriksaan mata luar gedung yang memiliki Kriteria kebutaan menurut WHO yaitu visual acuity atau visus <3/60 in the better eye (BL). Pengambilan data menggunakan kuisioner Simplified WHO. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil: Sebanyak 88.635 anak telah diskrining oleh kader sehat mata untuk mengikuti pemeriksaan mata luar gedung tahun 2016. Dari jumlah tersebut, 74 anak di antaranya mengalami kebutaan dan 6 anak dipercaya tidak dapat melihat. Mereka terdiri dari 48 anak laki-laki dan 32 anak perempuan. Mayoritas anakanak berasal dari kelompok usia 11-15 tahun. 48% anak berasal dari lokasi pemeriksaan mata luar gedung di Yaketunis dan 47,5% dari 80 anak tersebut bertempat tinggal di Kecamatan Sewon. Sebanyak 51,3% tidak tahu kapan pertama kali mengalami kebutaan, 80% anak tidak memiliki riwayat penyakit keluarga dengan gangguan mata atau kebutaan dan 92.5% tidak memiliki riwayat perkawinan sedarah di keluarganya. Sebanyak 61,3% anak memiliki kemampuan penglihatan Less than 3/60 � PL. Penyebab kebutaan yang paling banyak dijumpai pada kelompok anak dengan satu gangguan struktur mata adalah gangguan pada lensa (40,7%) dan gangguan refraksi (29,7%) merupakan gangguan yang paling banyak dijumpai pada kelompok anak yang mengalami gangguan pada lebih dari satu struktur mata. Kesimpulan: Angka prevalensi kebutaan di Kabupaten Bantul sebesar 0,09%. Total gangguan mata yang dapat dicegah dalam penelitian ini adalah 50 kasus (24,8%) dan gangguan mata yang dapat diobati adalah 166 kasus (82,2%).
Background: Cases of the blindness of children aged 5-14 years in Indonesia in 2013 reached 4,802 cases. Childhood blindness occurs in various areas, including in Bantul District. In 2016 Bantul district has a population of 0-19 years of 263.449 people, but there is no epidemiological data of childhood blindness in the region. Therefore, this study is needed to determine the prevalence of blindness in children aged 0-19 years and early detection of eye health of children which involving the community as a competent Healthy Eye Cadre to know the visual impairment in children that can cause blindness so the prevalence and the causes of blindness in childern can be known. Aim: Know the prevalence of childhood blindness in Bantul District and describe the cause of childhood blindness in Bantul District. Method: This research is qualitative descriptive research with the cross sectional design. The study population is all children aged 0-19 years who live in Bantul regency which is screened by the Healthy Eye Cadres. The study samples were all children aged 0-19 years who examined their vision ability in an external eye examination that had a blindness criteria according to WHO, i.e., visual acuity or visus <3/60 in the better eye (BL). Data collection using WHO Simplified questionnaire. Data analysis used qualitative descriptive study. Results: A total of 88,635 children have been screened by healthy cadres for eye examination outside the building in 2016. Of these, 74 were blinded, and six were believed to be unable to see. They consist of 48 boys and 32 girls. The majority of children are from the 11-15 year age group. 48% of children come from the location of the eye examination outside the building in Yaketunis, and 47.5% of the 80 children are living in Sewon District. As many as 51.3% did not know when first to experience blindness, 80% of children did not have a family history of illness with eye disorders or myopia, and 92.5% had no family history of inbreeding. As many as 61.3% of children have vision ability of less than 3/60 - PL. The most common cause of blindness in the group of children with a disorder of the eye structure is lens disturbance (40.7%), and refraction disorder (29.7%) is the most common disorder in children affected by more than one eye structures. Conclusion: Blindness prevalence rate in Kabupaten Bantul is 0,09%. Total of preventable eye disorders in this research is 50 cases (24,8%), and eye disorder that can be cure is 166 cases (82,2%).
Kata Kunci : kebutaan anak, gangguan penglihatan, prevalensi, kader sehat mata