PRAKTIK SENI MISTIK JAWA SEBAGAI JEMBATAN SOSIOLOGIS MASYARAKAT
MOH. AINUL YAQIN, Dr. Samsul Maarif
2018 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaWayang menjadi salah satu tradisi lokal masyarakat Indonesia yang sudah ada sejak dahulu kala. Dari zaman nenek moyang hingga saat ini, pagelaran wayang menjadi bagian tak terpisahkan dari napak tilas kehidupan masyarakat Jawa. Masih tingginya animo masyarakat Jawa terhadap wayang menunjukkan betapa wayang berperan penting dalam mewarnai khazanah budaya lokal. Berbagai ragam jenis, bentuk dan kegunaan wayang yang terdapat di berbagai daerah di Indonesia khususnya Jawa Timur. Mulai dari yang bernuansakan ritual keagamaan hingga pertunjukkan hiburan masyarakat. Mulai dari berbahan kulit hingga berbahan kayu. Pada umumnya wayang bebas dipertunjukkan dalam berbagai ruang acara selametan atau bahkan memperingati hari jadi suatu kota. Namun, wayang di daerah Kediri tepatnya di Kecamatan Semen Desa Pagung sedikit berbeda dengan wayang pada umumnya. Perbedaan ini terletak pada aturan pemakaian dalam prosesi pagelaran wayang seperti tidak boleh dibawa dengan alat transportasi apapun, pemilihan cerita berdasarkan wangsit, wayang tidak boleh dipertontonkan atau dipertunjukkan disembarangan kegiatan. Dari hal-hal tersebut, maka peneliti merasa ingin memahami konteks praktek wayang dari segi agama dan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dan menggunakan pagelaran Wayang Mbah Gandrung sebagai objek penelitian. Melalui interaksi langsung kepada sumber informan. Penelusuran data dari media maasa, dokumen internal maupun sumber terkait digunakan dalam menjawab rumusan masalah dalam tesis ini. Bagaimana konteksualisasi wayang dalam kehidupan berbudaya masyarakat Desa Pagung Kediri? Seperti apa dimensi mistis dan keagamaan dalam pagelaran Wayang Mbah Gandrung? Bagaimana Wayang Mbah Gandrung berperan dalam dinamika sosial masyarakat Desa Pagung?. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa budaya wayang mempunyai peran penting dalam kehidupan bermasyarakat di Desa Pagung. Selain berfungsi sebagai edukasi dalam membangun nilai-nilai moral dan norma kehidupan dalam bermasyarakat, juga sebagai jembatan untuk merekatkan hubungan sosial antar elemen dalam suatu kumpulan masyarakat. Hubungan yang terjalin tersebut nantinya berguna dalam menjamin kelestarian budaya dan tradisi wayangan dalam masyarakat tersebut. Dinamika tersebut tidak terlepas dari unsur kepercayaan masyarakat terhadap Wayang Mbah Gandrung yang dinilai mistik. Di satu sisi, praktik seni Wayang Mbah Gandrung menjadi sumber lestarinya seni budaya masyarakat, di sisi lain juga menjadi jembatan sosial komunikasi antar komunitas lokal.
Wayang (shadow puppet) performance became one of the local traditions of Indonesian society that has existed since immemorial time. From the time of the ancestors to the present, Shadow puppet performances become an inseparable part of the history of Javanese society. The height interest of Javanese society towards wayang shows how wayang plays an important role in coloring the local cultural treasures. There are various types, shapes and uses of puppets that exist in various regions in Indonesia, especially East Java. Ranging from the religious rituals to entertainment performances, from leather to made from wood. In general, Wayang freely performed in various spaces selametan or even commemorate the anniversary of a city. However, wayang in the district of Kediri precisely the district of cement Pagung village slightly different from the wayang in general. This difference lies in the rules of usage in the procession of wayang performances such as should not be taken by any means of transportation, the selection of stories based on revelation, puppets should not be shown or displayed at any event. From these things, the researchers feel interested in how such things affect the religious, social and cultural life of the community. Therefore, this research is a kind of qualitative research and using Wayang Mbah Gandrung performance as research object. Through direct interaction to informant sources, search of mass media, internal documents and related sources to be used in answering the formulation of the problem in this thesis. How is wayang contextualization in cultural life of Pagung people?, what spiritual and religious dimension are like in Mbah Gandrung puppet performance? And how Mbah Gandrung puppet does play role in social dynamic of internal and external society of Pagung Kediri? From this research, it can be concluded that the wayang culture has an important role in community life in the Pagung village. In addition to functioning as an education in building moral values and norms of life in the community, wayang is also used as a bridge to glue social relationships between various elements in a community collection. The relationship will be useful in ensuring the preservation of cultural and traditions of wayangan in the community. The dynamics can not be separated from the element of public belief in Wayang Mbah Gandrung considered sacred. On the one hand, Wayang Mbah Gandrung becomes the source of the preservation of the traditions and culture of society and on the other Wayang Mbah Gandrung present as an integral part in connecting horizontal relationship among local communities.
Kata Kunci : Wayang Mbah Gandrung, Tradisi Lokal, Agama, Hubungan Sosial Masyarakat