Mikrozonasi Seismik Berdasarkan Data Mikrotremor dan Kerusakan Bangunan Akibat Gempabumi Yogyakarta 2006
RADHITYA PERDHANA, Dr. Budi Eka Nurcahya, M.Si.
2018 | Tesis | S2 Ilmu FisikaGempabumi Yogyakarta 2006 menyebabkan kerusakan yang besar di daerah Yogyakarta dan sekitarnya. Daerah yang mengalami dampak terparah adalah Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Klaten di Provinsi Jawa tengah. Distribusi kerusakan akibat gempabumi ini mengindikasikan bahwa terdapat kontrol efek tapak lokal pada daerah kerusakan tersebut. Kerusakan yang besar menunjukkan kesadaran yang rendah terhadap efek tapak lokal. Metode mikrotremor adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk memperkirakan kondisi geologi bawah permukaan. Dengan metode pengolahan HVSR (Horizontal-to-Vertical Spectral Ratio), parameter amplifikasi dan frekuensi dominan dapat diperoleh dari data mikrotremor. Pada penelitian ini dilakukan identifikasi amplifikasi berdasarkan perbandingan dan pengelompokan kurva HVSR. Zonasi kemudian dilakukan untuk mengklasifikasikan tingkat amplifikasi di daerah penelitian. Inversi juga dilakukan pada kurva-kurva HVSR untuk memperkirakan model perlapisan tanah. Dari pemetaan nilai amplifikasi diperoleh kesesuaian antara nilai amplifikasi dengan distribusi kerusakan bangunan akibat gempabumi Yogyakarta 2006. Hasil inversi menunjukkan bahwa daerah yang memiliki amplifikasi tinggi merupakan daerah yang memiliki kedalaman batuan dasar yang dalam dan memiliki lapisan sedimen lunak yang tebal. Dari inversi didapatkan kedalaman lapisan di daerah Bantul lebih kecil dibandingkan dengan daerah Prambanan. Secara umum batuan dasar di daerah Bantul berada pada kedalaman 30-80 meter. Sedangkan di daerah Prambanan dan Klaten kedalaman batuan dasar berkisar antara 80-160 meter.
The 2006 Yogyakarta earthquake caused an extensive damage in some of Yogyakarta region. The most affected area was Bantul District in Yogyakarta Special Province and Klaten District in Central Java Provinve. The pattern of the damage distribution indicates the influence of local site effect to the damaged area. This extensive damage also indicates low public awareness on the aspect of site effects. Microtremor survey method can be utilized as a tool for predicting sub-surface geological structure. Using HVSR (Horizontal-to-Vertical Spectral Ratio) processing method, parameter of amplification and predominant frequency can be extracted from microtremor data. In this research, the identification of amplification factor was conducted by comparing and grouping sets of HVSR curves from the measurement sites. Zonation was then applied to classify the level of amplification in the research area. Inversion to the HVSR curves was also carried out to infer the ground profile model in the research area. The identified amplification factor distribution shows the relevance of amplification and the damage distribution of the 2006 Yogyakarta earthquake. The inversion results show that in the area with high amplification factor and damage level, the bedrock depth and thickness of soft layer is higher. From the inversion of the HVSR curves, the bedrock depth in the Bantul area was found to be smaller than in the Prambanan and Klaten area. The bedrock depths in Bantul area is around 30-80 meters, compared to 80-160 meters in the Prambanan and Klaten Area.
Kata Kunci : mikrotremor, HVSR, inversi, amplifikasi, gempabumi, Yogyakarta, gelombang permukaan, algoritma neighborhood