Laporkan Masalah

Peluang dan Tantangan Uni Eropa dalam Perundingan Transatlantic Trade and Investment Partnership (2013-2016)

NABEEL KHAWARIZMY M, TTIP, Uni Eropa, perjanjian perdagangan internasional, three-level game, peluang dan tantangan

2017 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Uni Eropa dan Amerika Serikat telah menegosiasikan Transatlantic Trade and Investment Partnership (TTIP) sejak Juli 2013 dengan tujuan untuk meningkatkan perdagangan, investasi, pertumbuhan ekonomi dan lapangan pekerjaan di kedua belah pihak/negara. Jika berhasil disepakati, TTIP akan menjadi perjanjian perdagangan bilateral terbesar di dunia. Namun perundingan TTIP dipenuhi perdebatan dan kontroversi sehingga terpaksa ditahan sementara pada Oktober 2016. Dalam melihat studi kasus ini, Uni Eropa merupakan aktor yang menarik untuk diteliti, karena Uni Eropa memiliki tiga level negosiasi (internasional, regional dan domestik) yang menambah kompleksitas dari proses perundingan. Oleh karena itu, skripsi ini bertujuan menganalisis mengapa Uni Eropa sulit untuk menyetujui perjanjian TTIP. Penelitian ini dilakukan dengan melihat peluang dan tantangan yang dihadapi Uni Eropa pada masing-masing level. Peluang ditelusuri untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendorong Uni Eropa untuk menyetujui TTIP, sementara tantangan ditelusuri untuk mencari tahu faktor-faktor apa saja yang membuat Uni Eropa sulit untuk menyetujui TTIP. Menggunakan teori three-level game, penelitian ini menemukan bahwa Uni Eropa sulit untuk menyetujui perjanjian TTIP karena tantangan-tantangan yang dihadapi Uni Eropa lebih besar daripada peluang yang dimilikinya.

The European Union and the United States have negotiated the Transatlantic Trade and Investment Partnership (TTIP) since July 2013 with the aim of increasing trade, investments, economic growth and jobs on both sides of the Atlantic. When the deal comes into force, TTIP will be the largest bilateral trade agreement in the world. However, the TTIP negotiations were filled with irreconcilable differences and the contents caused controversy among the European public, resulting in the negotiations being put on hold since October 2016. In analyzing this trade agreement, the EU is an interesting actor to observe since it has three levels of negotiations (international, regional and domestic) which adds to the degree of complexity in the negotiation process. Therefore, this thesis aims to analyze why the EU found it difficult to approve the TTIP agreement. This research is conducted by looking at the opportunities and challenges that the EU faced on each negotiation level. The opportunities are observed to understand the factors that encouraged the EU to approve the TTIP, whilst the challenges are observed to find what made the EU difficult to approve the aggreement. Using the three-level game theory, this research found that the reason why the EU found it difficult to approve the TTIP agreement was because the challenges it faced was higher than the opportunities it had

Kata Kunci : TTIP, Uni Eropa, perjanjian perdagangan internasional, three-level game, peluang dan tantangan