Laporkan Masalah

Proses Integrasi Eropa melalui Eropanisasi Studi Kasus: Bergabungnya Negara-negara Eropa Timur dan Tengah ke Uni Eropa melalui The EU after the Fall of the Wall Enlargement

AUDY AKBAR, Drs. Muhadi Sugiono, MA

2018 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL

Skripsi ini berusaha memberikan pemahaman baru dalam memandang fenomena integrasi Eropa melalui The EU after the Fall of the Wall Enlargement 2004, yang merupakan respon Uni Eropa terhadap berakhirnya Perang Dingin pada tahun 1991, diawali dengan lahirnya Traktat Maastricht yang memproyeksikan pengakhiran dikotomi politis Barat-Timur di kawasan Eropa dan mewujudkan integrasi Eropa. Dalam upayanya tersebut, Uni Eropa menggunakan praktik hegemoni berlapis terhadap negara-negara Eropa Timur dan Tengah yang melekat pada proses Eropanisasi dan terkristalisasi dalam tiap-tiap tahapan enlargement itu sendiri, dengan menggunakan European Values sebagai ideational forces. Tahapan enlargement tersebut mencakup konstruksi, difusi, dan institusionalisasi dari European Values, dimana dalam realisasinya Uni Eropa memanfaatkan skema orientalisme dan nesting orientalism yang memperlancar praktik hegemoninya terhadap negara-negara Eropa Timur dan Tengah dengan memberikan kesan perbedaan terhadap mereka sebagai negara bekas komunis untuk kemudian memiliki tendensi untuk berafiliasi dengan Uni Eropa. Praktik hegemoni tersebut dapat terwujud dengan ditandatanganinya Pakta Enlargement oleh delapan negara-negara Eropa Timur dan Tengah pada 1 Mei 2004, karena adanya kepatuhan yang diberikan oleh mereka terhadap setiap proses enlargement yang disediakan oleh Uni Eropa, dimana atas dasar pertimbangan rasional, berafiliasi dengan Uni Eropa merupakan langkah paling strategis bagi mereka, mengingat kacaunya kondisi domestik tiap-tiap negara seiring dengan jatuhnya kekuasan komunisme Uni Soviet pada 1991. Dengan bergabungnya negara-negara Eropa Timur dan Tengah ke dalam Uni Eropa, Uni Eropa mengklaim bahwa integrasi Eropa telah tercipta, seperti yang diproyeksikan Traktat Maastricht.

This thesis aims to give a new understanding on seeing the European integration phenomenon through The EU after the Fall of the Wall Enlargement 2004, which was European Union’s response toward the end of the Cold War in 1991, started with the establishment of Maastricht Treaty in 1992 that was projecting to end the West-East political dichotomy in European continent and to make European integration possible to be reached. To make it happen, EU was using layered-hegemonic means toward the Central and Eastern European Countries which embedded throughout the Europeanization process and crystalized in every enlargement step itself, using European values as its ideational forces. The enlargement steps were construction, diffusion, and institutionalization of the European Values, whereby in the realization, EU was shaping the orientalism and nesting orientalism scheme to grease its hegemonic means with showing the Central and Eastern European Countries were post-communist countries that needed to be changed and to have tendencies to be affiliated with European Union. The hegemonic means seemed success as the ratification of the Enlargement Pact in May 1, 2004, supported by the consent given by the EEC, where it was the most strategic step to take as their domestic-restructuring needs at that time. European Union claimed European integration has successfully achieved as the join of Central and Eastern European Countries to European Union, as projected by Maastricht Treaty.

Kata Kunci : Integrasi Eropa, Eropanisasi, Hegemoni Berlapis, Neogramscianism, Orientalisme, Nesting Orientalism, Uni Eropa, Eropa Timur dan Tengah, Perang Dingin, Traktat Maastricht, Enlargement


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.