Laporkan Masalah

STEREOTIPE TERHADAP PERAN GANDA PEREMPUAN SEBAGAI SEBUAH "KEWAJIBAN" (ANALISIS TERHADAP FILM "HIJAB" KARYA HANUNG BRAMANTYO)

RR.NADIA SURYA GUMPITA, Prof. Dr. Heru Nugroho

2018 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Sebagai media massa yang persuasif, film mampu mempengaruhi penontonnya melalui ilusi sehingga mereka merasa seakan sedang berada dalam film tersebut. Proses tersebut memungkinkan terjadinya perubahan cara berpikir dan cara pandang individu terhadap sesuatu, seperti yang terdapat pada film "Hijab" karya Hanung Bramantyo. Film yang dirilis pada tahun 2015 ini memberikan pemahaman pada setiap penontonnya bahwa perempuan juga memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk memiliki pekerjaan diluar rumah. Kesempatan tersebut diberikan kepada perempuan jika �kewajiban� sebagai perempuan (ibu dan istri) telah terpenuhi. Film tersebut kemudian memberikan gambaran tentang kriteria ideal perempuan sebagai seorang ibu dan istri. Dengan menggunakan analisis Sara Mills, akan dilihat bagaimana posisi perempuan digambarkan dalam sebuah film. Kehadiran film "Hijab" secara tidak langsung merupakan hasil dari produksi masyarakat tentang stereotipe yang diberikan kepada perempuan itu sendiri. Konsensus yang terjadi melalui proses dialog antara aktor dalam tersebut telah berhasil sampai kepada penonton bahwa perempuan diperbolehkan memiliki pekerjaan diluar rumah asalkan pekerjaan domestik mereka telah dilaksanakan. Julia Suryakusuma dalam buku "Ibuisme Negara" (2011) menyebutkan bahwa pandangan tersebut merupakan salah satu hasil konstruksi dari pemerintah orde baru agar perempuan bisa ikut serta dalam pembangunan tanpa meninggalkan "kodrat" perempuan sebagai ibu dan istri. Jika dilihat dari beberapa stereotipe perempuan yang dihadirkan dalam "Hijab", film ini justru melanggengkan adanya beban ganda bagi perempuan ketika ia memiliki pekerjaan diluar wilayah domestik. Film ini menghasilkan citra yang kurang baik bagi perempuan sebab menjadikan pekerjaan domestik dan non-domestik sebagai "kewajiban" yang harus dipenuhi oleh perempuan.

As persuasive mass media, film can give an illusion to its audience as if they were inside of it, playing character. The process allows audience for that matter that one individual, to changed their way of thinking and perspective affected by the film, like the one in Hanung Bramantyo's "Hijab". The film was released in 2015, offering an insight to audiences that women also have the same opportunities as men to do jobs outside their domestic work. The opportunity will be given if the "obligations" of women (as a mother and wife) have been fulfilled. The film then gives an overview of the ideal criteria of women as a mother and wife. By using Sara Mills's analysis, will be observed how position of women is depicted in a film. The film "Hijab" emerge from stereotype that society has given to woman. The consensus that happened through the process of dialogue between the actors has made it to the audience that women are allowed to have work outside as long as their domestic work has been carried out. Julia Suryakusuma (2011), in her book State Ibuisme mentions that this idea was the construction result from New Order Government that women can participate in nation's development without neglecting their nature as a mother and wife. Based on the several stereotypes of women that was presented in "Hijab", this film actually perpetuates a double burden for women when she has a job outside their domestic territory. This film generates a bad image for women because it makes domestic and non-domestic work as an "obligations" to be fulfilled by women.

Kata Kunci : Kata Kunci: Perempuan, Kewajiban, Peran Ganda, Analisis Wacana.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.