PERBEDAAN FAKTOR BIOTIK ANTARA MANGROVE REHABILITASI DAN ALAMI DI PANTAI UTARA DESA SAWOJAJAR, KECAMATAN WANASARI, KABUPATEN BREBES
FIRMANSYAH BAYU P, Prof. Dr. Erny Poedjirahajoe, M.P.
2018 | Skripsi | S1 KEHUTANANHutan mangrove merupakan salah satu ekosistem utama di wilayah pesisir yang memiliki keanekaragaman jenis yang tinggi. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadi perubahan kondisi ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh barbagai faktor. Faktor biotik merupakan penyusun utama dalam ekosistem hutan mangrove, perbedaan kondisi ekosistem hutan akan memiliki perbedaan faktor biotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kerapatan vegetasi pada hutan mangrove Desa Sawojajar tahun tanam 1997, 2013 dam mangrove alami; mengetahui perbedaan faktor biotik (plankton, nekton dan makrobenthos) pada hutan mangrove rehabilitasi tahun tanam 1997, 2013 dan mangrove alami; Mengetahui keterkaitan kerapatan vegetasi dengan perbedaan faktor biotik (plankton, nekton dan makrobenthos) pada hutan mangrove rehabilitasi dengan tahun tanam 1997, 2013 dan mangrove alami. Penelitian ini dilakukan pada hutan mangrove Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juni 2017 menggunakan metode Systematic Sampling With Random Start dengan jarak antar plot 30 meter pada hutan rehabilitasi tahun 1997, 21 meter pada hutan mangrove rehabilitasi tahun 2013 dan 100 meter pada hutan mangrove alami Desa Sawojajar. Pengambilan sampel dilakukan dengan petak ukur kuadrat dengan total jumlah 33 plot. Komponen yang diteliti meliputi kerapatan vegetasi, kepadatan plankton, kepadatan nekton dan kepadatan makrobenthos pada kawasan hutan mangrove rehabilitasi tahun 1997, 2013 dan alami Desa Sawojajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan mangrove rehabilitasi tahun 1997 memiliki nilai kerapatan vegetasi 5600 individu/ha, hutan mangrove rehabilitasi tahun 2013 memiliki rata-rata kerapatan vegetasi 15490,90 individu/ha sedangkan hutan mangrove alami memiliki rata-rata kerapatan vegetasi 21136,36 individu/ha. Kepadatan plankton pada hutan mangrove rehabilitasi tahun 1997 rata-rata adalah 7309,09 individu/liter, kepadatan plankton pada hutan mangrove rehabilitasi tahun 2013 rata-rata 11730,91 individu/liter, sedangkan kepadatan plankton hutan mangrove alami rata-rata adalah 9301,82 individu/liter. Kepadatan nekton pada hutan mangrove rehabilitasi tahun 1997 rata-rata 2,13 individu/m³, kepadatan nekton pada hutan mangrove rehabilitasi tahun 2013 rata-rata 3,02 individu/m³ dan kapadatan nekton hutan mangrove alami Desa Sawojajar rata-rata 1,44 individu/m³. Kepadatan makrobenthos pada hutan mangrove rehabilitasi tahun 1997 rata-rata 0,80 individu/m² kepadatan makrobenthos pada hutan mangrove rehabilitasi tahun 2013 rata-rata 4,91 individu/m² dan kepadatan makrobenthos hutan mangrove alami rata-rata 3,25 indvidu/m². Perbedaan faktor biotik pada hutan mangrove terjadi pada ketiga kawasan hutan.
Mangrove forests are one of the main ecosystems in coastal areas that have high species diversity. As time goes by, changes in the condition of mangrove ecosystems caused by various factors. Biotic factors are the main constituents in the mangrove forest ecosystem, differences in forest ecosystem conditions will have different biotic factors. This study aims to determine the density of vegetation in mangrove forest Sawojajar Village planting year 1997, 2013 and natural mangrove dam; to know the difference of biotic factors (plankton, nekton and macrobenthos) on mangrove forest rehabilitation year 1997, 2013 and natural mangrove; To know the association of vegetation density with different biotic factors (plankton, nekton and macrobenthos) on reforestation mangrove forest with year of 1997, 2013 and natural mangrove. This research was conducted on mangrove forest of Sawojajar Village, Wanasari Sub-district, Brebes Regency. Data collection was conducted in June 2017 using Systematic Sampling With Random Start method with distance between plot 30 meter at rehabilitation forest of 1997, 21 meter at mangrove forest rehabilitation year 2013 and 100 meter in natural mangrove forest of Sawojajar Village. Sampling was done with a plot of squares with a total of 33 plots. The components studied include vegetation density, plankton density, nekton density and macrobenthos density in rehabilitated mangrove forest areas 1997, 2013 and natural Sawojajar Village. The results showed that mangrove forest rehabilitation in 1997 has a density value of vegetation 5600 individuals/ha, mangrove forest rehabilitation in 2013 has an average vegetation density of 15490,90 individuals/ha while natural mangrove forest has an average vegetation density 21136,36 individuals/Ha. The plankton density in the 1997 rehabilitated mangrove forests was 7309,09 individuals/liter in average, the plankton density in rehabilitated mangrove forests in 2013 has an average 11730,91 individuals/liter, while the average natural mangrove forest plankton density has an average 9301,82 individual/liter. The density of nekton in rehabilitated mangrove forests in 1997 has an average 2,13 individuals/m³, the density of nekton in rehabilitated mangrove forests in 2013 has an average 3,02 individuals/m³ and the natural mangrove forest nekton density of Sawojajar village has an average 1,44 individuals/m³. The macrobenthos density in 1997 rehabilitated mangrove forests has an average 0,80 individuals/m² of macrobenthos density in rehabilitated mangrove forests in 2013 has an average 4,91 individuals/m² and macrobenthos density of natural mangrove forests has an average 3,25 indvidu/m². Differences in biotic factors in mangrove forests occur in the three forest areas.
Kata Kunci : Biotik, Mangrove, Rehabilitasi dan Alami