PEMETAAN STABILITAS AGREGAT TANAH PERMUKAAN DI SUB DAS KALIWUNGU, MAGELANG, JAWA TENGAH
VINDA INDRIASTUTI, Dr.rer.nat.Muhammad Anggri Setiawan, M.Si
2018 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANStabilitas agregat tanah merupakan indikator yang relevan sebagai prediksi awal terjadinya erosi tanah karena mencerminkan beberapa karakteristik tanah penting lainnya dan mengukur beberapa karakteristik tanah permukaan. Diperlukan metode yang tepat untuk mengkombinasikan faktor lingkungan terkait stabilitas agregat tanah untuk menghasilkan peta stabilitas agregat tanah. Penelitian ini dilakukan untuk menguji efektifitas dan efisiensi kombinasi bentuklahan dan penutup lahan untuk pemetaan stabilitas agregat tanah permukaan skala detail dan menganalisis distribusi nilai stabilitas agregat tanah permukaan di Sub DAS Kaliwungu. Data dikumpulkan melalui survei lapangan dan pengujian laboratorium. Sampel tanah diambil dari tanah permukaan 0-5 cm di 31 titik sampel kombinasi bentuklahan dan penutup lahan pada area sampling seluas 34,83 ha. Uji laboratorium digunakan untuk memperoleh indeks stabilitas agregat tanah (ISAT) menggunakan metode ayakan berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sub DAS Kaliwungu didominasi atas satuan Konsosiasi ISAT 6 dan Konsosiasi ISAT 5. Ada sebagian kecil digolongkan dalam satuan Asosiasi, yang memiliki komposisi ISAT 3 sebesar 43% dan ISAT 6 sebesar 39%. Nilai ISAT pada berbagai bentuklahan sangat fluktuatif yang menandakan pengaruh bentuklahan sangat rendah terhadap kestabilan agregat. Penutup lahan memiliki nilai ISAT sangat variatif. Kombinasi bentuklahan dan penutup lahan sebagai satuan pemetaan stabilitas agregat tanah permukaan, efektif digunakan pada karakteristik wilayah yang heterogen dan efisien dalam segi waktu dan biaya penelitian.
Soil aggregate stability is a relevant indicator as an early prediction of soil erosion. Soil aggregate stability representing important soil characteristic and measure some of soil surface characterisitc. A precise method is needed to combine environmental factor affecting soil aggregate stability to produce soil aggregate stability map. The purpose of this research is to test the effectivity and efficiency of the combine unit analysis from landform and land cover factor for detail mapping of topsoil aggregate stability and to analyze topsoil aggregate stability distribution in Kaliwungu Watersheds. Data were collected through field surveys and laboratory tests. Soil sample was collected from soil surface layer (0-5cm) on 31 sample point. Sample point was determined from the combination of landform and landcover factor on 34,83 ha sampling area. Soil Aggregate Stability Index (SASI) was acquired form laboratoy analysis by using multiple-sieve method. The result of this research showed that Kaliwungu Watersheds dominated by consociation of SASI 6 and SASI 5. A small part classified in association units which consists of ISAT 3 by 43% and ISAT 6 by 39%. The SASI values fluctuate on different landform. The result shows that landform has a minimal effect on soil aggregate stability and land cover has a varied SASI value. Landform and land cover combination is effective as a mapping unit for topsoil aggregate stability mapping on heterogenous area and efficient on the perspective of time and expense.
Kata Kunci : Pemetaan tanah, Stabilitas agregat tanah permukaan, Sub DAS Kaliwungu