Laporkan Masalah

BAKTERI PELUNTUR RESIDU PEWARNA INDIGO DAN DEKOLORISASI LIMBAH BATIK

RESPATY YUDHA PUTRANTO, Prof. Dra. A. Endang Sutariningsih Soetarto, M.Sc.,Ph.D.

2017 | Skripsi | S1 BIOLOGI

Limbah industri batik memiliki potensi tinggi sebagai pencemar lingkungan, karena mengandung sejumlah senyawa kimia yang berasal dari proses pembuatan batik. Senyawa kimia yang terkandung dalam limbah batik bersifat toksik terhadap lingkungan, meliputi: sisa serat kain, residu lilin (malam) dan pewarna tekstil. Oleh karena itu, sebelum limbah tersebut dibuang ke lingkungan, perlakuan khusus sangat diperlukan untuk menurunkan toksisitas (detoksikasi). Detoksikasi limbah melibatkan aktivitas mikrobia khususnya bakteri. Penelitian ini diutamakan pada karakter bakteri perombak residu atau peluntur (dekolorisasi) pewarna pada limbah batik. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan bakteri yang mampu tumbuh dan mendekolorisasi residu pewarna indigo dalam limbah batik, dan menguji potensi isolat bakteri untuk melunturkan pewarna tersebut pada skala tabung dengan sistem sekali unduh. Sampel limbah batik cair dan semipadat serta pengumpulan data lingkungan diambil dari Pengrajin batik. Penelitian di laboratorium meliputi isolasi bakteri dari limbah tekstil melalui teknik kultur diperkaya dengan menggunakan medium basal yang diberi pewarna indigo. Setelah dua kali sub-kultur, bakteri diisolasi dengan teknik pengenceran dan penanaman secara taburan. Isolat bakteri pendekolorisasi pewarna diseleksi berdasarkan kemampuan tumbuh dan dekolorisasi pewarna pada medium padat yang mengandung 100 mg/L pewarna indigo. Isolat bekteri yang tumbuh dengan membentuk zona jernih di sekitar koloni dipilih untuk percobaan berikutnya. Kemampuan tumbuh isolat terpilih dan mendekolorisasi pewrna diobservasi melalui percobaan kultivasi pada media MSM ditambah 100 mg/L pewarna indigo, diinkubasi pada temperatur kamar. Tiap interval waktu tertentu pertumbuhan isolat diukur dengan spektrofotometer (A600nm) dan perubahan warna diamati secara visual. Isolat terpilih yang menunjukkan aktivitas tertinggi diidentifikasi secara fenotipik berdasarkan metode standar. Hasil menunjukkan 40 tipe bakteri yang berbeda telah berhasil diisolasi dari limbah semi padat, dan hanya 3 isolat (strain BSP20, BSP28, dan BSP38) yang memiliki aktivitas pertumbuhan relatif tinggi pada medium MSM yang mengandung 100 mg/L pewarna indigo. Kesimpulan penelitian ini adalah 3 isolat bakteri (strain BSP20, BSP28, dan BSP38) merupakan kelompok bakteri peluntur pewarna indigo. Isolat BSP38 memiliki aktivitas tertinggi dalam waktu 24 jam mampu mendekolorisasi pewarna indigo sebesar 75,07%. Berdasarkan karakter morfologi koloni, morfologi sel dan sifat biokimia, isolat BSP38 berbentuk basil pendek, gram negatif dan mampu melunturkan warna tekstil.

Waste from batik industrial has high potential as an environmental pollutant, because it contains a number of chemical compounds derived from the process of making batik. Chemical compounds contained in batik liquid waste were very toxic to the environment because residue of fiber, wax and dyes. Therefore, those wastes needed special treatment before being discharged into the environment. This study aims were to obtain dye decolorizing bacteria able to grow on and decolorize dyes, especially indigo dye residues and to examine their potential activity to remove dye under a batch wise and tube scale experiment. The study began with sampling of liquid and semisolid wastes and collecting of environmental data. Research in the laboratory included the indirectly isolation of decolorizing bacteria from those liquid and semi solid wastes through an enrichment culture technique on liquid medium containing an indigo dye. After two times of sub-cultures, the decolorizing bacteria was isolated through a serial dilution and planting on basal medium containing (100 mg/L) indigo dye, incubated at room temperature until bacterial growth occurred. Bacterial isolates were selected on the basis of its ability to grow and decolorize indigo dye (100 mg / L) and then identified in part based on phenotypic characterization. The ability to grow and the determination of the optimal conditions of selected isolates growth for dye decolorization was carried out through cultivation experiment using the MSM media plus 1000mg / L indigo dye; incubated at room temperature. Every interval of time, isolates growth was measured spectrophotometrically (A600nm). Results showed that 40 types of bacteria had been isolated successfully from a semi-solid waste, and only 3 isolates (BSP20, BSP28 dan BSP38) out of 40 bacterial isolates that showed relatively high growth activity on MSM medium containing 100 mg / L indigo dye. The conclusion of this study is 3 bacterial isolates (BSP20, BSP 28, and BSP38) is a group of 40 isolates of bacteria laxative indigo dye and which has the highest degradation the study was bacterial isolatr BSP38 demonstrated the highest activity. Within 24 hours the isolate BSP38 was capable of indigo dye decolorizing of 75.07%.

Kata Kunci : Pewarna Indigo, MSM (Mineral Salt Medium), Limbah Industri Batik, Bakteri Pendegradasi