Laporkan Masalah

Partisipasi Angkatan Kerja Lansia: Studi tentang Persepsi dan Motivasi Bekerja di Tiga Pasar Kota Yogyakarta

MUTIA FAUZIA, Prof. Dr. Partini, SU

2018 | Skripsi | S1 SOSIOLOGI

Di Kota Yogyakarta, meskipun tidak berjumlah besar, jelas terjadi peningkatan angkatan kerja lansia. Para pekerja lansia ini pun memiliki berbagai macam latar belakang yang kemudian mendorong untuk melanjutkan kerja di usia senja. Jumlah tanggungan, pendapatan, latar belakang pendidikan, bahkan jenis kelamin, merupakan faktor sosio-demografis yang sering dianggap berpengaruh paling dominan dalam mendorong lansia untuk terus bekerja. Melalui penelitian ini, akan dijabarkan, apakah para pekerja lansia ini tidak mendapatkan dukungan sosial yang memadai sehingga harus tetap bekerja di usia lanjut, atau bekerja dikarenakan alasan lain. Tentu saja, karena elemen sosial terdekat seorang lansia adalah keluarga, penelitian ini pun menggunakan variabel keluarga untuk melihat pengaruhnya terhadap persepsi, motivasi, dan partisipasi kerja lansia. Dengan menggunakan metode kuantitatif dan pendekatan survai, penelitian ini pun berusaha untuk menganalisis pengaruh kehadiran, hubungan, dan peran keluarga terhadap keputusan lansia untuk melanjutkan kerja di usia lanjut. Sampel dalam penelitian ini adalah 76 lansia di Pasar Kranggan, Pasar Beringharjo, dan Pasar Kotagede. Pemilihan lokasi di wilayah Pasar Kota Yogyakarta dikarenakan populasi terbesar pekerja lansia bekerja pada sektor informal (BPS, 2015), sehingga pasar dirasa menjadi tempat yang tepat. Melalui penelitian ini diperlihatkan bagaimana hubungan keluarga, persepsi kerja, motivasi kerja dan partisipasi kerja lansia memiliki hubungan yang asimetris. Nyatanya, para lansia pekerja pasar ini bukanlah sosok-sosok yang menggantungkan hidup mereka pada anak atau anggota keluarga lain. Kemandirian para lansia ini terlihat dari rata-rata waktu kerja yang rata-rata lebih dari 35 jam dalam satu minggu. Bahkan para lansia ini bekerja 7 hari kerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Ujaran seperti; "pekewuh karo anak" dan tanggung jawab wis "dhewe-dhewe" adalah hal yang paling kerap diucapkan para lansia mengenai hubungan antara lansia dengan anak. Para lansia ini lebih mengapresiasi perhatian berupa afeksi dari anak mereka, dibandingkan dengan bantuan materiil. Dorongan untuk bekerja hadir dari diri lansia sendiri, sebagai sarana aktualisasi diri agar terhindar dari social disengagement.

In Yogyakarta, although not large, there is an increase of elderly workforce. These elderly workers also have a variety of backgrounds that then encourage them to continue working. The number of dependents, income, educational background, even sex, is a socio-demographic factor that is often considered the most dominant influence in encouraging the elderly to continue working. Through this research, it will be elaborated whether these elderly workers are not getting adequate social support, so they must continue to work, or work for other reasons. Of course, since the closest social element of an elderly is a family, this study also uses family variables to see its influence on the perception, motivation, and participation of the elderly. Using quantitative methods and survey approaches, this study also attempted to analyze the effect of attendance, relationships, and family roles on elderly decision to continue work in old age. This research sample is 76 elderly workers in Pasar Kranggan, Pasar Beringharjo, and Pasar Kotagede. Selection of Yogyakarta City Market location due to the largest population of elderly workers working in the informal sector (BPS, 2015), so the market is the right place. Through this research is shown how family relationships, work perceptions, work motivation and elderly work participation have asymmetric relationships. In fact, the elderly market workers are not the figures who depend their lives on children or other family members. The independence of the elderly shown by the average working hours which more than 35 hours in a week. Even these elderly people work 7 days to meet their daily needs. They said 'pekewuh karo anak' and 'wis dhewe-dhewe' as the most response related to their relationship with their children, showing that each family having their own responsibility. The elderly is more appreciative if their children show their respect through affection than with material assistance. The drive to work comes from the elderly themselves, as a means of self-actualization to avoid social disengagement.

Kata Kunci : Elderly, Family, Motivation of working, Perception of working.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.