The Politics of Transnational Corporation Hegemony: BP's Community Engagement in Local Development at Tangguh Liquefied Natural Gas Project
SHABIRA AURELABIBA, Dr. Maharani Hapsari, S.IP., M.A.
2018 | Skripsi | S1 ILMU HUBUNGAN INTERNASIONALNeoliberalisme ekonomi telah mendukung meningkatnya kekuatan dan pengaruh perusahahaan-perusahaan transnational di seluruh dunia. Namun, terlepas dari keuntungan adanya perusahaan asing di suatu negara, semakin banyak orang yang mulai menyadari dampak buruk yang juga ditimbulkan oleh kegiatan industri ekstraktif, terutama yang berkaitan dengan lingkungan dan masyarakat adat sekitar. BP, dengan pengalaman lebih dari 45 tahun di Indonesia, saat ini sedang mengerjakan proyek terbesarnya di kawasan Asia Pasifik, proyek Tangguh LNG. Terletak di daerah terpencil di Papua Barat yang populasinya masih menjunjung tinggi nilai dan norma budaya sebagai bagian penting dari kehidupan sehari-hari mereka, proyek ini memiliki beberapa tantangan. Sebagai kompensasi atas hilangnya asset, mata pencaharian, dan pendapatan karena pembebasan lahan yang melibatkan permukiman kembali rudapaksa masyarakat setempat, BP memberikan bantuan untuk pembangunan daerah melalui program sosialnya � terutama di sektor kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan keamanan � yang didasari dengan standar perusahaan, nasional, dan internasional dalam melakukan bisnis untuk pembangunan berkelanjutan. Selama bertahun-tahun BP melakukan keterlibatan masyarakat di setiap tahap pembangunan mendapatkan Tangguh LNG legitimasi untuk dapat terus beroperasi tanpa adanya kontroversi besar terhadap kehadirannya. Ini merupakan strategi politik BP dalam �perang posisi� untuk mengklaim kepemimpinan moral dan intelektual dan dengan demikian, menciptakan hegemoni sehingga operasi bisnisnya dapat dipertahankan selama hampir satu dekade.
Economic neoliberalism has been supporting the increased power and influence of transnational corporations across the world. However, in spite of their potential advantages on host countries, more and more people are growing awareness of the adverse impacts caused by the activities of extractive multinationals, particularly in relation to surrounding environment and the indigenous people. BP, with over 45 years of experience in Indonesia, is working on its biggest project in the Asia Pacific region at the time, the Tangguh LNG project. Situated in a remote area of Papua Barat whose population still uphold cultural values and norms as an important part of their daily life, the project presents some challenges. As compensation for the loss of assets, livelihoods, and income due to land acquisition involving involuntary resettlement of local communities, BP provides assistance for development through its social programs � particularly in health, education, economy, and security � based on the company, national, and international standards in doing business for sustainable development. BP�s years of conducting community engagement in each of the stages of local development in the region gains Tangguh LNG legitimacy to operate without any major controversies against its presence. It is a political business strategy that BP uses in a �war of position� to claim moral and intellectual leadership and thus, create a hegemony so that it can successfully maintain the sustainability its business operations for almost a decade.
Kata Kunci : BP, Tangguh LNG, Indonesia, MNCs, extractive industries, legitimacy, development, Gramsci, hegemony