Hubungan Kadar Merkuri (Hg) Rambut dengan Kejadian Abortus
TRIANA KHOERUNNISA, Dr. dr. Osman Sianipar, DMM., M.Sc., Sp.PK(K); Fitra Duhita, M.Keb; Drs. Abdul Wahab, MPH
2018 | Tugas Akhir | D4 BIDAN PENDIDIK SVAbortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan (usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram). Merkuri (Hg) adalah salah satu trace element yang mempunyai sifat cair pada temperatur ruang dengan specific gravity dan daya hantar listrik yang tinggi. Ketika merkuri masuk ke dalam tubuh dengan kadar yang melebihi ambang batas (lebih dari 2 mg/Kg) dapat memberikan dampak pada kelainan genetik, kelainan syaraf, kelainan kromosom, kecacatan pada bayi, reaksi alergi, kerusakan sperma, dan abortus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar merkuri (Hg) rambut dengan kejadian abortus di Kecamatan Seteluk, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Metode penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional dengan pendekatan retrospektif dan teknik pengambilan sampel Quota Sampling. Populasi target adalah seluruh ibu yang pernah hamil, sedangkan populasi terjangkau adalah sampel yang tercatat di LPPM-UGM tahun 2016-2017. Hasil penelitian didapatkan hasil dari 68 subyek kadar merkuri(Hg) tinggi sebanyak 5 subyek (7,4 %) dan kejadian abortus sebanyak 37 subyek (54,4 %). Analisis hubungan kadar merkuri(Hg) rambut dengan kejadian abortus dengan uji chi square di dapat hasil Pvalue 0,033 yang artinya terdapat hubungan yang bermakna antara kadar merkuri(Hg) rambut lebih dari 2 mg/Kg dengan kejadian abortus. Perhitungan rasio prevalensi diperoleh hasil bahwa risiko subyek dengan kadar merkuri (Hg) rambut lebih dari 2 mg/Kg akan mengalami kejadian abortus 1,97 kali lebih besar (95% CI: 1.544-2.510) jika dibandingkan dengan subyek yang memiliki kadar merkuri (Hg) rambut kurang/ sama dengan 2 mg/Kg. Kadar merkuri rambut lebih 2 mg/Kg pada wanita hamil merupakan salah satu prediktor terhadap kejadian abortus.
Miscarriage is a threat or expenditure of conception before the fetus can live outside the womb (gestational age less than 20 weeks or fetal weight less than 500 grams). Mercury (Hg) is one of the trace elements that has liquid properties at room temperature with specific gravity and high electrical conductivity. When mercury enters the body with levels exceeding the threshold (>2 mg/kg) can have an impact on genetic disorders, nerve abnormalities, chromosomal abnormalities, infant defects, allergic reactions, sperm damage, and miscarriage. The purpose of this study to determine the relationship of mercury (Hg) hair levels with the incidence of miscarriage in Seteluk Subdistrict, West Sumbawa, West Nusa Tenggara. This research method used Cross Sectional design with retrospective approach and Quota Sampling technique. Target population is all women who have been pregnant, while the affordable population is a sample recorded in LPPM-UGM in 2016-2017. Result showed that from 68 subject with mercury (Hg) are 5 subject (7,4%) and incidence of miscarriage are 37 subject (54,4%). Analysis of the relationship of mercury (Hg) hair levels with the incidence of miscarriage with chi square test showed Pvalue = 0,033 which means there is a significant relationship between mercury (Hg) hair >2 mg/kg with the incidence of miscarriage. Calculation of prevalence ratios obtained result that the risk of subject with mercury (Hg) of hair >2 mg/kg will experience greater incidence of miscarriage 1.97 times (95% CI: 1.544-2.510) than subject who have mercury (Hg) hair kurang/ sama dengan 2 mg/Kg. Hair mercury levels of more than 2 mg/Kg in pregnant women are a factor of predictors of miscarriage.
Kata Kunci : merkuri, abortus, penambang emas