POLA KOGNISI SPASIAL EKOLOGIS RUMAH TANGGA TERHADAP KERENTANAN WILAYAH AKIBAT BANJIR DAN ROB PADA BENTANGLAHAN PESISIR (STUDI KASUS KECAMATAN PEKALONGAN UTARA)
ARTININGSIH, Prof. Dr. suratman, M.Sc
2018 | Disertasi | S3 Ilmu LingkunganKerentanan wlayah akibat banjir dan rob pada bentanglahan pesisir belum pernah dikaji dalam empat proses bertahan hidup, adaptasi dan ketahanan jangka pendek secara simultan. Tujuan penelitian adalah menganalisis rekonstruksi kognisi masyarakat terhadap terjadinya kerentanan wilayah akibat banjir dan rob; merumuskan sintesis pola kognisi spasial ekologis kerentanan wilayah; menganalisis pengambilan keputusan masyarakat untuk tetap tinggal pada area terdampak banjir dan rob, serta menganalisis upaya ketahanan masyarakat sebagai implikasi kerentanan wilayah melalui keberlanjutan penghidupan. Metode penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 15 informan kunci yang dipilih secara purposive dan snowballing sampling sebagai unit kasus. Analisis unit kasus dilakukan guna menggali rentang peristiwa dalam garis waktu terkait rekonstruksi pengetahuan, pengalaman dan persepsi rumah tangga terdampak banjir dan rob. Analisis antar kasus menjadi uji validitas data sebagai triangulasi yang diperkuat telaah dokumen dan data sekunder. Hubungan sebab akibat dari fase penting yang muncul menjadi dasar terbangunnya pola kognisi spasial kerentanan wilayah secara induktif. Studi kasus menghasilkan Peta Kognisi Spasial Ekologis Wilayah Genangan menurut jenis genangan dan tahun terjadinya. Pola perubahan pemanfaatan ruang menunjukkan peralihan penghidupan masyarakat sebagai proses sosio-spasial antara tahun 1970-2015. Keputusan tetap tinggal dalam area terdampak banjir dan rob ditentukan oleh kemampuan mempertahankan aset produktif dan kesiapan mengakses pengetahuan baru melalui jejaring kerjasama berbasis komunitas. Titik Kritis dalam Adaptasi Transformatif menjadi teori baru yang dihasilkan, menjelaskan bagaimana masyarakat menerima ketidaksempurnaan kondisi lingkungan hunian sebagai proses transaksional rumah tangga dalam meningkatkan kapasitasnya menuju ketahanan jangka pendek. Pilihan baru penghidupan berkelanjutan ditentukan oleh kemampuan reorganisasi dan inovasi yang lebih menjamin manfaat ekonomi, sosial dan ekologis. Segmentasi ruang budidaya terjadi akibat induksi kekuatan ekonomi global. Kapasitas ketahanan sosial, ekonomi dan ekologi petani tambak saat ini kurang bermakna tanpa posisi tawar yang tinggi dalam rantai nilai usaha Udang Vannamei dan Rumput Laut Gracilaria dalam skala nasional dan global.
A research on region vulnerability due to tidal inundation and flooding in coastal landscape has never been done with 4 processes of coping, adaptation and short term resilience simultaneosly. This research aims at analyzing the reconstruction of community cognition on region vulnerability impacted by flood and tidal inundation; synthesizing region vulnerability spatial-ecological pattern; analyzing community decision for living on flood and tidal inundation prone area; analyzing resilient community attempts as implications of region vulnerability through sustainable livelihood. Qualitative research with a case study methods apply to this research. Data collections were conducted through in-depth interview on 15 key informants who selected with purposive and snowballing sampling. Within-case unit analisys is conducted to explore timeline events base on community reconstruction according to their knowledge, experience and perceptions. Cross-case Unit Analysis become data validity test for household spatial cognition on flood and tidal inundation prone area in Northern Pekalongan. Causal-relationship between emerging important phase become a foundation for inductive spatial cognition on region vulnerability pattern. The nature of tidal inundation and flood reconstructed by a spatial ecological cognition map which illustrated the exposure of inundation in terms of time and types. Cognition of space-use transformation pattern reveal as socio-spatial process in 1970-2015. Capability for living with risk depend not only on how they could maintain productive assets as long as possible but also on how the community ready to access novel knowledge, build community collaboration and networking for gaining sustainable livelihood. Critical turning points of Transformative Adaptation, become a brand new theory offering explanation on how community embrace their surrounding ill-structure as household transactional process to enhance their capacity towards short term resilience. A new option sustainable livelihood was determined by reorganization and innovation which provide not just economic security but also ecological benefit. Spatial segmentation was induced by global economy market through Vannamei-shrimps and Gracilaria Seaweed cultivation. Existing farmers capacities in enhancing their social, economy and ecological relisilence must be in pairs with their significant role on a related national-global Value Chains
Kata Kunci : coping, flood, resilience, spatial-ecological cognition, sustainable livelihood, tidal inundation, transformative adaptation, vulnerability