RESILIENSI REMAJA YANG MEMILIKI ORANGTUA BERCERAI (Studi Fenomenologi terhadap remaja dengan orangtu
ORPA BANNE,
2014 | Tesis |Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dinamika psikologis remaja dengan orangtua bercerai untuk mencapai resiliensi. Responden dari penelitian ini berjumlah empat orang remaja awal dan tengah yang memiliki orangtua bercerai dan memiliki prestasi akademik yang baik di sekolah. Pertanyaan dalam penelitian ini adalah; bagaimana gambaran dinamika psikologis remaja dengan orangtua bercerai untuk mencapai resiliensi?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki orangtua bercerai dapat mencapai resliensi. Respon dari responden terhadap perceraian orangtua beragam, yaitu kecewa, marah, sakit hati, kaget, bahkan tidak ingin bertemu lagi dengan orangtua yang meninggalkan rumah. Namun hal tersebut tidak lantas membuat responden berkembang secara negatif melainkan tetap positif sebagai wujud dari resiliensi. Proses resiliensi yang dilalui oleh responden adalah munculnya perasaan negatif, beradaptasi dengan perubahan-perubahan, menerima keadaan, bertahan dengan keadaan keluarga, berkembang ke arah positif, dan berbagi dan memberikan dukungan kepada teman yang memiliki permasalahan sama. Faktor-faktor yang memengaruhi dalam mencapai resiliensi adalah faktor individual, keluarga, serta eksternal atau komunitas. Faktor individual meliputi kemampuan kognitif yang baik, spritualitas yang tinggi, serta memiliki cita-cita di masa depan; faktor keluarga merupakan dukungan sosial yang didapatkan dari keluarga besar; dan faktor eksternal atau komunitas adalah dukungan yang didapatkan dari teman-teman serta komunitas yang diikuti oleh responden. Sumber-sumber resiliensi pada remaja terdiri dari perasaan positif yang dimiliki, kemampuan yang dimiliki, serta memiliki dukungan dari keluarga serta teman. Kata kunci: Resiliensi, Remaja, Orangtua yang Bercerai.
Kata Kunci :