KEBERSYUKURAN SEBAGAI SALAH SATU BENTUK RESILIENSI PADA PEREMPUAN KORBAN ERUPSI MERAPI 2010.
RIZKIA NURINAYANTI,
2012 | Skripsi |Erupsi Merapi adalah bencana alam yang terjadi secara periodik di Indonesia, yang terjadi sejak tahun 1548 sampai 2010. Erupsi Merapi yang terakhir terjadi padan bulan November 2010, dan erupsi tersebut merupakan erupsi terbesar sejak tahun 1872. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal akibat erupsi Merapi ini adalah 232 orang dan jumlah rumah yang hancur akibat erupsi Merapi ada sekitar 2271. Kondisi ini tentu saja bisa menjadi stressor bagi para korban erupsi tersebut. Tekanan psikologis berupa kehilangan anggota keluarga, kehilangan rumah, dan ketidakjelasan akan masa depan sangat mungkin menjadi penyebab munculnya gangguan psikologis. Di sisi lain, pada faktanya masih ada korban erupsi Merapi yang mampu bertahan dalam kondisi yang tidak menyenangkan, kemampuan tersebut dinamakan resiliensi. Dalam penelitian ini, penerimaan dan kebersyukuran mejadi faktor penting yang mempengaruhi tingginya resiliensi perempuan korban erupsi Merapi. Penelitian ini bertujuan untuk membedah makna kebersyukuran pada perempuan korban erupsi Merapi yang mempunyai resiliensi tinggi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenologi, dimana pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi dan wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kebersyukuran berkorelasi positif dengan resiliensi, dimana kebersyukuran meningkatkan salah satu faktor resiliensi yaitu sense of purpose. Tingginya kebersyukran meningkatkan resiliensi pada perempuan korban erupsi Merapi di Dusun Srunen pada tahun 2010. Kata kunci: kebersyukuran, resiliensi, erupsi Merapi.
Kata Kunci :