PENGALAMAN EMOSI DAN MEKANISME KOPING LANSIA YANG MENGALAMI PENYAKIT KRONIS
SUYANTA,
2012 | Tesis |Penelitian kualitatif fenomenologi ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan penelitian mengenai “Bagaimana esensi makna serta dinamika pengalaman emosi dan mekanisme koping lansia yang mengalami penyakit kronis?”. Lansia yang menderita sakit kronis akan mengalami serangkaian dinamika yang melibatkan emosi serta perilaku koping dalam mereduksi atau mengatasi penderitaan. Karena itu dengan mengetahui esensi makna serta dinamika pengalaman emosi dan mekanisme koping lansia yang mengalami penyakit kronis, akan membantu memahami mengenai apa yang membuat lansia bertahan selama mengalami sakit yang cukup lama, di usia yang sudah tua. Penelitian ini menggunakan wawancara mendalam serta observasi partisipasi untuk mengumpulkan data dari 6 orang subjek. Informasi tambahan di dapat dari 6 orang anggota keluarga dan satu orang key person yang mengetahui tentang subjek. Pemilihan subjek ditentukan berdasarkan referensi dari tokoh masyarakat yang mengetahui kondisi subjek dengan kriteria usia 60 tahun atau lebih, mengalami penyakit kronis lebih dari satu tahun, dan memungkinkan memberikan keterangan melalui wawancara. Dalam melakukan penelitian ada empat proses yang dilalui meliputi epoche, phenomenological reduction, imaginative variation, dan synthesis of meaning. Proses analisis dan interpratasi data meliputi braketing, horizonalizing, meaning units untuk mendapatkan deskripsi textural, imaginative variation untuk mendapatkan deskripsi structural, dan memadukan deskripsi textural dan structural menjadi suatu makna yang universal mewakili responden secara keseluruhan. Validitas hasil penelitian dengan menggunakan triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika pengalaman emosi dan mekanisme koping yang dialami subjek berjalan melalui serangkaian proses menuju tahap kesadaran akan penerimaan kondisi sakit sebagai efek dari proses penuaan (aging). Hal tersebut sesuai dengan pemaknaan mereka mengenai usia lanjut sebagai orang yang harus bisa ngrumangsani atau bisa menerima kondisinya. Dalam dinamikanya terdapat emosi negatif yang meliputi rasa khawatir, sedih, putus asa, dan emosi positif karena adanya faktor dukungan keluarga. Mekanisme koping berfokus masalah dilakukan subjek pada awal mengalami sakit dengan tindakan terapi inkonsisten, selanjutnya mengembangkan koping fokus emosi penyangkalan, rasionalisasi, dan represi, sejalan dengan gagalnya terapi yang dilakukan. Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi, diantaranya faktor ketidaktahuan akan penyakit yang dialami sebagai temuan baru yang berpengaruh bagi pengalaman emosi dan mekanisme koping lansia yang mengalami sakit kronis.
Kata Kunci :