Laporkan Masalah

HUBUNGAN PERILAKU PROSOSIAL REMAJA AWAL

NATALIA ORIZA KARTIKASARI,

2012 | Skripsi |

Manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak lepas dari kebiasaan tolong menolong karena pada dasarnya manusia saling membutuhkan satu sama lain. Perkembangan peradaban menyebabkan banyaknya pergeseran nilai moral. Ciri kehidupan sopan santun, gotong royong, tolong menolong, bekerja sama, suasana kemanusiaan dan empati mulai terkikis. Kepribadian yang sehat terbentuk ketika seseorang mampu berinteraksi dengan cara-cara yang positif, baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain. Perilaku prososial sebagai satu cara interaksi positif diharapkan akan dapat menciptakan kepedulian sosial. Melalui perilaku prososial setiap individu dalam masyarakat diharapkan mau peduli dengan individu lain sehingga dapat terjalin suatu kesetiakawanan sosial. Perilaku tersebut terkait dengan kepribadian tiap-tiap individu. Sisisisi kepribadian itu berpengaruh bagi remaja dalam membantu atau mewujudkan kebaikan dan memberikan manfaat positif bagi individu atau kelompok lain. Remaja awal dinilai memiliki emosi yang masih labil atau bergejolak yang muncul akibat adanya tuntutan penyesuaian terhadap bentuk perilaku yang sesuai dengan norma dan harapan sosial dari masyarakat. Perilaku prososial dilakukan karena remaja ingin menjadi bagian dari lingkungan tempatnya berinteraksi. Semakin sering remaja berperilaku prososial maka remaja akan memiliki eksistensi di dalam masyarakatnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas kepribadian “manusia tanpa ciri‟ dengan perilaku prososial remaja awal, Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan ada hubungan positif kualitas kepribadian “manusia tanpa ciri‟ menurut konsep Suryomentaram dengan perilaku prososial pada remaja awal. Semakin tinggi kualitas kepribadian “manusia tanpa ciri‟, maka perilaku prososial pada remaja awal semakin tinggi,dan sebaliknya. Subjek dalam penelitian ini adalah remaja akhir berusia 11-15 tahun yang berstatus sebagai pelajar kelas VII sekolah menegah pertama (SMP). Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah 107 orang yang terdiri dari 41 subjek laki-laki dan 66 subjek perempuan. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan dua skala yaitu skala kualitas kepribadian “manusia tanpa ciri‟ menurut konsep Suryomentaram untuk mengukur tingkat kualitas kepribadian remaja awal dan skala perilaku prososial untuk mengukur tingkat perilaku prososial remaja awal. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis korelasi product moment dari Pearson. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara kualitas kepribadian “manusia tanpa ciri‟ menurut konsep Suryomentaram dengan perilaku prososial remaja awal (0,661, p= 0,000 (p

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.