Laporkan Masalah

KEADILAN GENDER DAN HAK-HAK REPRODUKSI DI PESANTREN

Maya Fitria,

2011 | Tesis |

Perbedaan gender adalah pemaknaan masyarakat atas sifat, status, posisi, dan peran laki-laki dan perempuan yang dikaitkan dengan ciri-ciri biologisnya. Pemaknaan ini diterima dan diinternalisasi sehingga secara kognitif membentuk skema gender. Skema gender bersifat evaluatif sehingga berfungsi sebagai sikap. Sikap adalah intensi berperilaku. Sikap yang mengandung ketidakadilan gender akan memunculkan perilaku dan perlakuan yang tidak adil gender pula. Salah satunya terkait sikap terhadap proses reproduksi perempuan. Perlakuan yang salah ini dapat berdampak fatal terhadap kehidupan perempuan. Pada masyarakat agamis, seperti di pesantren, relasi setara antara laki-laki dan perempuan masih banyak dipandang sebagai wujud ketidaktaatan terhadap ajaran agama. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana keadilan gender dan hak-hak reproduksi di pesantren menggunakan kerangka teori sikap. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode studi kasus. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari 10 orang responden wawancarai, 18 responden FGD, dan 327 responden survei. Responden terdiri atas pengasuh pesantren, guru, pengelola dan dokter Balai Kesehatan Masyarakat milik pesantren, dan santri. Validitas hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan teknik trianggulasi. Mayoritas subjek cenderung sepakat dengan pembedaan peran gender laki-laki dan perempuan berdasar kenyataan yang terjadi di sekitar mereka. Meskipun begitu, sikap yang dipegang tidak menjadi ekstrim karena teks ajaran agama yang dipelajari justru cenderung adil gender. Terkait masalah reproduksi perempuan, sikap mayoritas subjek yang kurang adil terhadap perempuan justru berdasar interpretasi teks agama, misalnya terkait poligami, pemukulan terhadap perempuan yang membangkang, dan pernikahan dini. Hanya saja, sikap tersebut tidak kuat apalagi termanifestasi dalam perilaku justru karena konstruksi sosial masyarakat sekitar yang menentang hal tersebut. Selain itu, mayoritas sikap subjek setuju dan memahami bahwa perempuan mempunyai proses dan fungsi anatomi reproduksi yang berbeda dan lebih kompleks daripada laki-laki namun layanan kesehatan yang ada di pesantren cenderung sama, tidak ada perbedaan layanan.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.