Laporkan Masalah

KAJIAN STREPTAVIDIN BIOTIN DAN POLYMERASE CHAIN REACTION UNTUK PENGEMBANGAN DETEKSI Staphylococcus aureus PADA SARANG BURUNG WALET (Collocalia sp)

OKTORINA, Retno, R. Wasito

2011 | Disertasi |

Implikasi globalisasi dengan adanya perjanjian internasional di bidang perdagangan produk pertanian menuntut perubahan sistem perkarantinaan nasional yang modern. Dalam perjanjian Agreement on Sanitary and Phitosanitary Measures (SPS Agreement) telah ditetapkan aturan-aturan yang perlu dijalankan tentang perlindungan kesehatan manusia, hewan dan tunbuhan dalam hal sanitasi dan fitosanitasi oleh negara anggota terhadap adanya cemaran mikroorganisme dan toksin berbahaya (kontaminasi mikroorganisme penyebab penyakit yang terdapat pada produk pangan yang diperdagangkan antar negara). Dengan diintegrasikannya sanitasi dan fitosanitasi (karantina) dalam SPS, maka diperlukan suatu sistem pengawasan kualitas mutu produk pangan dan produk agribisnis. Indonesia merupakan produsen dan pemasok sarang burung walet terbesar, dan merupakan salah satu komoditi ekspor melalui karantina hewan Juanda, Surabaya. Hampir keseluruhan sarang burung walet Indonesia ditujukan untuk keperluan ekspor. Sarang burung walet dikonsumsi oleh manusia sehingga kebersihan secara fisik dan higienis harus tetap terjaga. Sarang burung walet merupakan bahan makanan yang mempunyai kandungan protein tinggi dan dapat tercemar oleh mikroorganisme. Salah satu mikroorganisme yang berperan terhadap timbulnya penyakit akibat makanan adalah S. aureus. Hal tersebut disebabkan adanya kemampuan S. aureus membentuk toksin yang dapat menyebabkan keracunan makanan. Pada penelitian ini telah dilakukan kajian uji deteksi keberadaan S. aureus terhadap sepuluh sampel (10) sarang burung walet dengan pengujian imunohistokimia streptavidin biotin (SB) pada kultur, supernatan dan jaringan sarang burung walet dan hasilnya membuktikan bahwa seluruh sampel adalah positif terhadap adanya S. aureus. Sedangkan, deteksi dengan polymerase chain reaction (PCR) diperoleh hasil enam (6) sampel sarang burung walet positif dan empat (4) sampel negatif terhadap adanya S. aureus. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa deteksi S. aureus pada sarang burung walet merupakan hal penting, terutama dalam penyediaan produk pangan asal hewan yang aman dan layak untuk dikonsumsi manusia. Metode deteksi tersebut adalah imunohistokimia SB dan PCR. Kedua metode tersebut dapat digunakan sebagai sarana diagnostik untuk mendeteksi S. aureus pada sarang burung walet. Imunohistokimia SB dapat digunakan untuk mendeteksi S. aureus pada sarang burung walet dengan mudah cepat dan memberikan hasil yang baik sebagai deteksi dini (uji skrining), dan jika diperlukan untuk uji kuantitas dapat dilanjutkan uji mikrobiologis. Selanjutnya, untuk menentukan patogenitas S. aureus dalam peneguhan diagnosa lebih lanjut dapat digunakan PCR. Metode deteksi (terutama uji imunosito-histokimia streptavidin biotin yang mudah, cepat dan akurat) terhadap S. aureus dapat (dan seharusnya) diterapkan sebagai uji standar nasional sebagai program rutin deteksi S. aureus pada sarang burung walet di Laboratorium Karantina Hewan di seluruh Indonesia. Kata kunci : Streptavidin biotin, polymerase chain reaction, S. aureus dan sarang burung walet

The presence of international agreement in agricultural product trade requires a change in modern national quarantine system. The Agreement on Sanitary and Phitosanitary Measures (SPS Agreement) has established rules that should be applied onthe protection of human, animal and plant health in terms of sanitation and phytosanitation of member countries on the presence of microorganism pollution and hazardous toxins (disease-resulting microorganism contamination presents in internationally-traded food products). By the integration of food sanitation and phytosanitation (quarantine) in SPS, we require a quality surveillance system of food and agrobusiness products. Indonesia is the biggest producer and supplier of swiftlet nest, which is one of export commodities flowing through animal quarantine, Juanda, Surabaya. Almost all of Indonesian swiflet nests are exported. Swiflet nest is consumed by human, so that its physical cleanliness and hygiene should be maintained. Swiflet nest is a food material having a high protein content and can be polluted by microorganisms. One of these microorganisms playing a role in the occurrence of disease is S. aureus. The latter is capable to form toxin that may intoxicate food. For further confirmation of S. aureus, we used Polymerase Chain Reaction test. Detection of the presence of S. aureus in ten samples of swiflet nest using streptavidin biotin immunohistochemical test in swiflet nest culture, supernatant and tissue showed that all samples positively had S. aureus. Detection using PCR revealed that six samples of swiftlest nest was positive and four was negative of the S. aureus presence. In conclusion, S. aureus detection in swiflet nest is important, particularly in the provision of animal food product, which is safe and liable for human consumption. The detection methods are streptavidin biotin immmunohistochemistry and polymerase chain reaction, can be used as a diagnostic tool for detecting S. aureus in swiflet nest. Streptavidin biotin immmunohistochemistry can be used to detect S. aureus in swiflet nest rapidly and provides reliable results as early detection or screening test. Furthermore, PCR can be used to obtain high specificity and diagnosis confirmation. Both methods can also be applied in quarantine laboratories in whole Indonesia.

Kata Kunci : Streptavidin biotin, polymerase chain reaction, S. aureus dan sarang burung walet


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.