RESPON FISIOLOGIS DAN TINGKAH LAKU SAPI YANG DIPERAH MENGGUNAKAN MESIN PORTABLE DI BALAI BESAR PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL-HIJAUAN PAKAN TERNAK (BBPTU-HPT) BATURRADEN PURWOKERTO
TITISARI, Nurina , Pudji Astuti
2014 | Tesis |Proses pemerahan dapat membuat stres pada sapi perah yang terlihat dari peningkatan kadar kortisol Secara normal, mesin perah menimbulkan pelepasan oksitosin dan ejeksi susu melalui reflek neuroendokrin, tetapi mesin perah terkadang dapat menimbulkan stres dan menyebabkan pengurangan produksi susu. Di Indonesia sistem pemerahan sebagian besar masih dilakukan secara manual meskipun sudah ada beberapa peternakan yang menggunakan mesin perah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon fisiologis dan tingkah laku sapi akibat penggunaan mesin perah portable. Penelitian menggunakan 20 ekor sapi perah laktasi multipara usia 3-6 tahun berasal dari Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul-Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden, Purwokerto Jawa Tengah. Pengambilan sampel darah dilakukan sebanyak 3 kali yaitu, sebelum mesin perah portable dipasang, 50 menit dan 100 menit setelah proses pemerahan. Uji kadar hormon kortisol menggunakan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Perbandingan rasio N/L dilakukan dengan penghitungan jenis leukosit. Analisa statistik menggunakan one way ANOVA. Respon tingkah laku dianalisa secara deskriptif. Korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui hubungan tingkah laku dan kadar kortisol serum darah. Hasil konsentrasi kortisol serum darah adalah sebagai berikut: sebelum pemerahan: 7,27 ± 4,64 ng/ml; menit ke-50: 7,42 ± 5,17 ng/ml; menit ke-100: 4,94 ± 1,76 ng/ml). Rasio N/L menunjukkan bahwa sebelum pemerahan hingga menit ke-100 sapi dalam keadaan stres (sebelum pemerahan: 1,34 ± 0,98; menit ke-50: 1,39 ± 0,85; menit ke-100: 1,03 ± 0,5). Hasil uji ANOVA kortisol dan rasio N/L pada ketiga kelompok perlakuan menunjukan perbedaan yang tidak signifikan (p>0,05). Selama pemerahan hanya beberapa ekor sapi yang menunjukkan respon tingkah laku dan tidak terdapat korelasi antara respon tingkah laku dan kadar kortisol serum darah (p>0,05). Disimpulkan bahwa pemerahan dengan mesin perah portable tidak mengganggu kenyamanan sapi perah.
Milking process seems to be stressful for dairy cows seen from an increase in cortisol. Normally, milking machine could release oxytocin and milk ejection reflex via neuroendocrine, but sometimes could inflict stress and causing substraction of milk production. Hand milking is still widely use in Indonesia, even though there are several dairy farms already used milking machine. The purpose of this study was to determine the physiological and behavioral responses of dairy cows due to milking parlor portable. Research used 20 multiparous lactating dairy cows aged 3-6 years from Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul- Hijauan Pakan Ternak (BBPTU-HPT) Baturraden, Purwokerto, Central Java. Blood sampling were collected 3 times, before milking machines were installed, 50 minutes and 100 minutes after milking process started. Assay cortisol used Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) method. Comparison of the ratio N/L is performed with differential leukocytes. Statistical analysis used one-way ANOVA. Blood serum cortisol concentrations results are as follows: before milking: 7,27 ± 4,64 ng/ml; 50 minutes: 7,42 ± 5,17 ng/ml; 100 minutes: 4,94 ± 1,76 ng/ml). Ratio N/L indicates that at before milking to 100 minutes after milking prosses started, cows in a state of stress ( 1,34 ± 0,98 before milking; 50 minutes 1,39 ± 0,85; 100 minutes 1,03 ± 0,5). Statistic test result of cortisol and ratio N/L in all three treatment groups showed no significant difference (p>0,05). During milking a few cows showed behaviour response and there was no correlation between behaviour response and cortisol serum levels ( p>0.05). In conclusion, milking parlor portable does not interrupted the convenient of dairy cows.
Kata Kunci : sapi perah, stres , mesin perah portable, kortisol, rasio N/L, tingkah laku