Kajian spasial ekologi dinamika karbon organik akibat kerusakan lingkungan dalam rangka pengelolaan DAS Bontang Kalimantan Timur
Agus Abdullah Mot,
2016 | Disertasi |Daerah Aliran Sungai (DAS) Bontang yang luasanya sekitar 72,12 km2dan panjang sungai utama 24,20 km, terletak di wilayah sungai (WS) Karangan Provinsi Kalimantan Timur. Bagian hulu (upland watershed) DAS Bontang termasuk wilayah Kabupaten Kutai Timur, sedangkan bagian tengah (midland watershed) dan bagian hilir (lowland watershed) termasuk wilayah Kota Bontang. DAS Bontang selain berpotensi menyebabkan rawan banjir di Kota Bontang, juga berpotensi sebagai penyedia air baku. Dewasa ini, DAS Bontang sedang mengalami degradasi (kerusakan) lahan dan kecenderungan perubahan alih fungsi lahan pada kawasan hutan lindung di hulu DAS serta kondisi sistem drainase perkotaan yang buruk, sehingga secara simultan dapat memperluas lahan kritis, mengurangi fungsi resapan air, meningkatkan limpasan permukaan, erosi tanah, sedimentasi dan banjir, serta peningkatan kehilangan karbon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji tingkat kerusakan lingkungan DAS Bontang ditinjau dari aspek biogeofisik dan aspek sosial ekonomi budaya, menentukan tingkat kehilangan karbon dan peta sebarannya serta skenario penanganannya. Metode penelitian ini meliputi analisis kerusakan lingkungan DAS Bontang dari aspek biogeofisik yang diindikasikan oleh nilai limpasan permukaan, erosi tanah dan sedimentasi, sedangkan dari aspek sosial ekonomi budaya diindikasikan oleh nilai tekanan penduduk, kekritisan lahan dan konflik sosial. Selain itu, analisis spasial kerusakan lingkungan DAS Bontang didekati dengan perubahan penutup lahan antara dua waktu yang terjadi di DAS tersebut, besarnya kehilangan karbon dihitung dari luas perubahan lahan yang dirinci setiap tipe penutupan lahan, kemudian dikonversi menjadi volume karbon. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa DAS Bontang mempunyai topografi datar dan bergelombang. Bagian hulu berbukit-bukit, bagian tengah dan bagian hilir berupa dataran. Jenis tanah didominasi oleh podsolik merah kuning, alluvial dan kompleks latosol, top soilnya tipis, peka erosi dan miskin unsur hara.Tutupan vegetasi DAS Bontang bagian hulu berupa hutan lindung dan tanaman keras, bagian tengah berupa tanaman ladang dan semak belukar, bagian hilir berupa tanaman mangrove. Tingkat kerusakan lingkungan DAS Bontang dari aspek biogeofisik diindikasikan oleh nilai limpasan permukaan sampai klasifikasi tinggi, nilai erosi tanah sampai klasifikasi berat dan nilai sedimentasi sampai klasifikasi sangat tinggi, sedangkan dari aspek sosial ekonomi dan budaya diindikasikan oleh nilai klasifikasi tekanan penduduk melebihi kapasitas lahan, kekritisan lahan sampai kategori kritis, serta adanya konflik sosial akibat alih fungsi lahan. Secara spasial tingkat kehilangan karbon di DAS Bontang akibat kerusakan lingkungan sebagian besar di bagian tengah dan bagian hilir yang penggunaan lahannya didominasi oleh penggunaan lahan tegalan, semak belukar dan permukiman, karena itu skenario penanganannya terutama dapat difokuskan pada penggunaan lahan tersebut dengan menerapkan teknik konservasi tanah dan air, rehabilitasi lahan (penghijauan), pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan hutan kota. Selain itu, penanganan kerusakan lingkungan DAS Bontang secara keseluruhan dapat dilakukan antara lain melalui revisi tata ruang DAS yang berwawasan lingkungan dan penyelesaian konflik alih fungsi lahan, memperkuat kerja sama dan komitmen antar pihak terkait (stakeholders), serta peningkatan pemberdayaan masyarakat, yang secara keseluruhan dapat dikemas dalam model pengelolaan DAS terpadu (integrated watershed management).
Kata Kunci :