Laporkan Masalah

Model manajemen rantai pasok yang berkelanjutan pada industri furniture berorientasi ekspor di Indonesia : Studi pada Perum Perhutani

Muh Hisjam,

2015 | Disertasi |

Industri furnitur berorientasi ekspor mempunyai peran yang penting di Indonesia, khususnya di Provinsi Jawa Tengah karena hutannya, pabriknya dan industri pendukungnya memberi manfaat secara ekonomis, sosial dan lingkungan. Terdapat tiga pemain utama dalam industri ini yaitu pemasok, pemanufaktur dan pembeli yang harus membangun kerja sama yang erat untuk keberlanjutan industri ini. Permasalahan dalam industri ini sangat kompleks, sehingga perlu dibangun sebuah model untuk membantu pengambil keputusan dalam industri ini untuk memecahkan masalah terkait keberlanjutan. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi kebutuhan kerja sama antar pelaku industri, membangun model rantai pasok yang berkelanjutan, memilih alternatif terbaik dari sejumlah alternatif keputusan terkait prioritas terhadap aspek keberlanjutan, dan mengetahui pasokan bahan baku minimum dari hutan pemasok yang masih memungkinkan tercapainya semua goal. Penelitian dilakukan di Perum Perhutani. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan, wawancara, dan data sekunder. Untuk mengidentifikasi kebutuhan pelaku industri terkait keberlanjutan, digunakan diagram alir dan stock and flow diagrams. Model matematis dibangun menggunakan goal programming untuk mencapai goal dari pelaku industri terkait keberlanjutan dengan beberapa tujuan yang bertentangan dan harus diselesaikan secara simultan. Data yang telah diperoleh selanjutnya digunakan untuk menjalankan model. Model yang dibangun berhasil diverifikasi dan divalidasi. Hasil yang diperoleh menunjukkan model dapat digunakan untuk mencapai goal tersebut. Model selanjutnya dijalankan dengan menggunakan sejumlah alternatif keputusan dengan memberikan pembobotan yang berbeda sejumlah goal. Trade-off antar aspek keberlanjutan ditemukan ketika alternatif keputusan dijalankan. Alternatif keputusan terbaik diperoleh dengan pemberian pembobotan yang lebih tinggi terhadap aspek lingkungan dan memberikan target goal yang lebih tinggi terhadap goal lingkungan yang dipilih. Alternatif keputusan terbaik tersebut pencapaian nilai goal-nya lebih baik tidak hanya pada aspek lingkungan saja tetapi juga aspek ekonomis dan sosial. Hal ini menunjukkan pentingnya aspek lingkungan dalam pengambilan keputusan dalam manajemen rantai pasok yang berkelanjutan. Terakhir, analisis sensitivitas dijalankan menggunakan sebuah parameter yang penting, yaitu Rencana Teknik Tahunan untuk Tebangan (RT3). Hasilnya adalah dengan penurunan nilai parameter tersebut, sampai nilai tertentu menyebabkan beberapa goal dalam goal programming tidak dapat tercapai. Nilai tersebut merupakan pasokan minimum bahan baku dari hutan pemasok.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.