Konstruksi konsep dalam konteks persepsi remaja tentang jumlah anak ideal dikabupaten Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta
Umi Listyaningsih,
2015 | Disertasi |Ruang sementara ini dimaknai sebagai sebuah lokasi dengan batas-batas fisik yang jelas seperti batas administrasi atau geografis dan bersifat statis. Secara teoritis ruang sebenarnya tidak statis dengan batas yang tidak lagi fisik, tetapi batas sosial. Sementara itu, perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi memperluas konsep ruang ke dalam pengertian ruang virtual. Ruang virtual menyimpan banyak informasi dengan tidak dibatasi jarak dan waktu, siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cakupan, konektivitas dan interaksi remaja dalam ruang fisik maupun ruang virtual dan menggunakannya untuk menjelaskan persepsi remaja tentang jumlah anak ideal. Metode penelitian adalah mixed method yaitu gabungan antara kuantitatif dan kualitatif. Untuk kuantitatif digunakan metode survey terhadap remaja umur 17-19 tahun yang belum menikah. Pemilihan sampel dilakukan secara sistematic random sampling dimasing-masing daerah sampel desa dan kota di Kabupaten Gunungkidul. Sementara itu, karena penelitian ini dilakukan untuk membandingkan, maka jumlah sampel ditentukan berdasarkan kuota desa dan kota masing-masing 100 responden. Analisis dilakukan dengan menggunakan statistik deskriptif maupun inferensial. Metode kualitatif dilakukan dengan menggunakan field research dengan metode pengumpulan data menggunakan Focus Group Discussion (FGD). Remaja beraktivitas dalam dua ruang fisik dan ruang virtual. Cakupan ruang fisik berkembang seiring dengan siklus kehidupan dan kegiatan utama, sementara itu cakupan ruang virtual jauh lebih luas, dapat dilakukan oleh siapa, dimana, dan kapan saja. Konektivitas ruang fisik ditentukan oleh kemandirian, sarana dan prasarana komunikasi, komitmen waktu, biaya, dan tempat, sementara itu konektivitas ruang virtual terkait dengan ketertarikan dan keterikatan sebuah konten dengan karakteristik seseorang. Anak bukan merupakan konten yang sesuai dengan remaja, sehingga ruang virtual tidak mempengaruhi persepsi remaja tentang jumlah anak ideal, meskipun curahan waktu dalam ruang virtual cukup besar. Sebaliknya, interaksi dalam ruang fisik karena terjadi secara berulang-ulang baik disengaja atau tidak, membantu proses pembentukan persepsi. Ruang virtual merupakan lived space remaja karena kuantitas dan kualitas interaksi dan komunikasi lebih terbuka dan mampu mengisi kekurangan dalam ruang fisik.
Kata Kunci :