Resiliens, transisi dan proses rehabilitasi lahan dikabupaten Gunungkidul : Tinjauan kompleks sistem
Wahyu Wardhana,
2015 | Disertasi |Perubahan kondisi lahan di Kabupaten Gunungkidul dari kawasan tandus menjadi kawasan bervegetasi merupakan suatu proses yang berlangsung dinamis. Perubahan ini adalah salah satu bentuk dari proses transisi ekosistem yang dipengaruhi oleh beragam faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola transisi ekosistem yang berlangsung di Kabupaten Gunungkidul. Sudut pandang yang digunakan dalam kajian penelitian ini adalah pendekatan kompleks sistem dengan kerangka analisis transisi dan resiliensi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode studi kasus yang dikombinasikan dengan ilmu penginderaan jauh. Penerapan metode ini diharapkan dapat memberikan gambaran terkait proses transisi lahan yang terjadi di Kabupaten Gunungkidul selama periode 1970 sampai dengan 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berlangsungnya proses transisi lahan di Kabupaten Gunungkidul terjadi karena adanya intervensi manusia melalui kegiatan rehabilitasi lahan. Intervensi ini kemudian mendorong terjadinya proses pemulihan ekosistem secara self organized yang didorong karena adanya pengaruh sub sistem sosial terhadap kegiatan rehabilitasi lahan. Adanya pengaruh sub sistem ini ditandai dengan terbentuknya konfigurasi dari pola tanam Alley Cropping, Trees Along border and Full Trees yang ditemukan pada berbagai tipe penutupan lahan berupa pekarangan, alas, dan tegalan. Bukti lain keberhasilan rehabilitasi lahan di Kabupaten Gunungkidul adalah adanya peningkatan jumlah penduduk dan indeks pembangunan masyarakat yang koheren dengan proses transisi yang menunjukkan tren positif. Selain itu, terdapat indikasi perbedaan pola transisi yang terjadi pada setiap zona bentang lahan. Adanya perbedaan pola transisi ini dilatabekangi oleh perbedaan karakteristik lahan dan perkembangan dinamika sosial yang terjadi pada setiap zona. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa proses transisi digunungkidul saat ini merupakan hasil kegiatan rehabilitasi pada masa lampau dengan model konfigurasi pola tanam sebagai dasar pembentuk ekosistem yang membentuk tingkat resiliensi tertentu yang harus dilandasi dengan pemahaman mendasar terkait karakteristik ekosistemnya yang sel-organized. Pelajaran penting dari kasus ini adalah bahwa rehabilitasi harus berbasis tapak dengan memberikan perhatian pada aspek sosial karena berperan memberikan perubahan yang paling besar dan kegiatan rehabilitasi harus didasarkan pada basis skenario rancangan hasil akhir kedepannya. Kata Kunci: Lahan, Resiliensi, Transisi, Rehabilitasi, Self Organized, Konfigurasi Pola Tanam, Ekosistem
Kata Kunci :