Transformasi sosial kultural sektor informal dikota Gorontalo
Rahmatiya Ali,
2015 | Disertasi |Penelitian ini dilaksanakan di 6 (enam) kecamatan yang ada di Kota Gorontalo yang terdiri atas Kecamatan Kota Barat, Kecamatan Dungingi, Kecamatan Kota Selatan, Kecamatan Kota Timur, Kecamatan Kota Utara dan Kecamatan Kota Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk : 1). Mengkaji proses Transformasi sosial kultural Sektor Informal di Kota Gorontalo; 2). Menentukan Peranan dan Keterkaitan Sektor Informal dalam Ekonomi Kota Gorontalo dan Daerah Belakangnya; 3) Menyusun Transformasi spasial Kegiatan Sektor Informal di Kota Gorontalo dalam rangka menemukan Ciri Khas Sektor Informal di Kota yang baru tumbuh. Metode yang digunakan adalah metode survei yaitu mengambil sampel dari populasi dengan menggunakan kuosioner sebagai alat pengumpul data dan terkait analisisnya adalah kualitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah diambil secara Random Sampling. Pengambilan titik koordinat kondisi existing Sektor Informal pada 90 titik yang menjadi lokus aktivitas Sektor Informal di Kota Gorontalo dengan menggunakan GPS, peta Citra, kamera digital. Analisa Data pada tujuan pertama dilakukan dengan analisa Deskriptif mengkomparasikan karakteristik Sektor Informal pada data empiris dengan literatur sejak awal berdiri sampai sekarang. Analisa pada tujuan kedua secara deskriptif melalui backward linkage dan forward linkage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah terjadi dinamika Sektor Informal di Kota Gorontalo sejak pemekaran Provinsi Gorontalo. Transformasi Sektor Informal dari segi etnis di Kota Gorontalo masih didominasi oleh Suku Pendatang baik itu etnis Cina yang dikenal berani mengambil resiko, etnis Arab dan etnis bugis melalui silaturahmi. Kecamatan Kota Selatan merupakan cerminan pluralisme etnis/suku terbesar karena merupakan basis pemerintahan dan pusat mobilisasi bisnis dan ekonomi paling dinamis dengan etnis Cina, etnis Bugis, etnis Gorontalo dan Arab. Telah terjadi perbedaan yang cukup jelas (distingtif) antara Sektor Informal sebelum dan pasca pemekaran yang menunjukkan bahwa pekerja Sektor Informal tidak terlalu memperhatikan aspek tingkat pendidikan tetapi pada motivasi, ketrampilan, kreativitas dan tradisi berjualan di dalam keluarga. Sektor informal menjadi alternatif pendapatan keluarga dan masyarakat di tengah himpitan ekonomi dan persaingan ekonomi masyarakat yang ketat. Transformasi sosial budaya sektor informal di Kota Gorontalo mencakup pelaku dan aktivitas kegiatan sektor informal. Transformasi sektor informal telah memproduksi hubungan mutualisme antara sektor informal dengan pemerintah daerah. Sektor informal telah berkontribusi membantu pemerintah daerah menanggulangi kemiskinan dan pengangguran perkotaan sementara pemerintah daerah turut memberikan intervensi kebijakan pemberdayaan sektor informal melalui keamanan dan kenyamanan kegiatan usaha. Kontribusi sektor informal terhadap perekonomian kota tersebut dikaji dari segi keterkaitan backward linkage, forward linkage dan consumption. Semakin tinggi derajat perhatian dan pemberdayaan terhadap ekonomi sektor informal, semakin tinggi pula dampak kemajuan terhadap ekonomi kota yang ditimbulkan oleh kemajuan sektor informal tersebut. Selain faktor struktural (pelaku dan aktivitas), faktor yang sangat menentukan dinamika kemajuan sektor informal adalah keberadaan spasial. Pola sebaran spasial kegiatan sektor informal bermakna strategis jika dihubungkan dengan hirarki jalan, keterkaitan dengan trayek angkutan, keterkaitan dengan pusat-pusat kegiatan dan keramaian, keterkaitan dengan kerawanan banjir, keterkaitan dengan penggunaan lahan serta keterkaitan dengan pra dan pasca berdirinya sektor informal.
Kata Kunci :