Integrasi citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk penyusunan model kerentanan kekeringan : Kasus di provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta
Sudaryatno,
2015 | Disertasi |Tujuan dari penelitian “Integrasi Citra Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Penyusunan Model Kerentanan Kekeringan (Kasus di Provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta)” ini adalah (1) Mengkaji kemampuan citra penginderaan jauh untuk perolehan data atau parameter karakteristik lahan untuk estimasi tingkat dan tipe kerentanan kekeringan, (2) Menganalisis tingkat dan tipe kerentanan kekeringan berdasarkan data atau parameter karakteristik lahan dalam tinjauan aspek kekeringan meteorologis, lahan dan pertanian dengan menggunakan sistem informasi geografis (SIG), dan (3) Menyusun model kerentanan kekeringan dalam tinjauan aspek meteorologis, lahan dan pertanian sebagai dasar untuk pemantauan dan pengendalian kekeringan suatu wilayah. Data yang digunakan untuk memetakan kekeringan lahan adalah data fisik lahan yang meliputi faktor-faktor kemiringan lereng, drainase, Available Water Capacity (AWC), permeabilitas, bentuklahan, dan penggunaan lahan. Citra Landsat ETM dan data SRTM digunakan untuk ekstraksi parameter fisik, seperti kemiringan lereng, drainase, bentuklahan, dan penggunaan lahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah skoring dan pembobotan. Untuk memetakan kekeringan meteorologi digunakan rata-rata hujan bulanan April hingga September tahun 2003 – 2007 yang akan diubah menjadi data SPI (Standardized Precipitation Index). Untuk memetakan kekeringan pertanian data yang digunakan adalah data citra MODIS komposit 8 harian, yaitu reflektansi band 1-5 dengan resolusi spasial 250 m dan land surface temperature dengan resolusi spasial 1 km. Citra MODIS reflektansi band 1-5 digunakan untuk ekstraksi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan LST (Land Surface Temperature). Metode yang digunakan untuk mengolah hasil kedua citra ini adalah korelasi statastik antara nilai NDVI dan nilai LST dalam bentuk nilai TVDI (Temperature Vegetation Dryness Index). Untuk memetakan kekeringan wilayah digunakan metode skoring dan penjumlahan antara faktor kekeringan lahan, kekeringan meteorologi dan kekeringan pertanian. Untuk keperluan pengambilan sampel lapangan digunakan metode purposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1). kekeringan lahan di Zona Utara semakin ke timur akan semakin tinggi karena adanya perbukitan Kendeng, sedang di Zona Tengah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor kemiringan lereng yang terjal, dan di Zona Selatan dipengaruhi oleh adanya topografi karst, (2). Secara temporal awal kekeringan meterologi pada Zona Selatan dan Zona Utara akan dimulai pada bulan April sedang di Zona Tengah dimulai pada bulan Mei. Ke arah timur sebaran luasan kekeringan meterologi akan semakin luas dan semakin tinggi tingkat kekeringannya, (3). Dari uji validasi diperoleh tingkat ketelitian nilai NDVI sebesar 71,42%, ketelitian nilai ekstraksi suhu citra sebesar 84,87%, dan uji ketelitan kekeringan lahan sebesar 91,0 %. Secara keseluruhan tingkat kekeringan pertanian di Zona Utara ini akan lebih merata dibanding pada Zona Selatan dan Zona Tengah yang secara temporal dimulai pada bulan Mei dengan puncak kekeringan pada bulan Juni hingga September. Di bagian Zona Tengah prosentase kekeringan pertanian tinggi tidaklah seluas di Zona Utara dan Selatan, sedang di Zona Selatan prosentase kekeringan pertanian tinggi dijumpai pada wilayah yang mempunyai topografi karst (4). Secara temporal kekeringan wilayah di bagian Zona Utara dimulai pada bulan April dan Mei yang mana hampir semua wilayah kabupaten telah masuk pada tingkat kekeringan tinggi dengan puncak kekeringan mulai bulan Juni hingga September. Di bagian Zona Tengah awal kekeringan dimulai pada bulan Mei dengan puncak kekeringan pada bulan Agustus hingga September dan didominisi oleh tingkat kekeringan sedang, cakupan luas wilayah yang terdampak kekeringan tinggi tidaklah seluas dibandingkan dengan wilayah-wilayah dibagian zona Selatan maupun Utara. Di bagian Zona Selatan, awal kekeringan sudah mulai dirasakan sejak bulan April dengan puncak kekeringan mulai bulan Juni hingga September, yang mana semakin ke timur tingkat kekeringan yang terjadi semakin tinggi dengan cakupan wilayah yang lebih luas dibandingkan wilayah barat.
Kata Kunci :