Pemanfaatan citra quickbird untuk penyusunan model spasial ekologi kewaspadaan dini kejadian luar biasa penyakit demam berdarah dengue (Dengue Hemorrhagic Fever) : Kasus di permukiman kota Yogyakarta
Dyah Respati Suryo Sumunar,
2015 | Disertasi |Demam Berdarah Dengue atau Dengue Hemorrhagic Fever (DBD atau DHF) telah menjadi salah satu penyakit yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Penyebaran penyakit yang cepat dan meningkatnya jumlah penderita menyebabkan kejadian luar biasa. Kondisi lingkungan berpengaruh terhadap penyebaran penyakit tersebut. Oleh karena itu diperlukan kajian mengenai variasi spasial kejadian DBD yang selanjutnya dapat dilakukan pemodelan spasial ekologi untuk mengetahui daerah yang rentan dan berisiko terhadap penyakit DBD, dan kemudian dapat dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan melalui sistem kewaspadaan dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Mengkaji kemampuan citra QuickBird dalam mengekstraksi data spasial parameter kondisi lingkungan yang terkait kejadian penyakit DBD dan kontribusinya dalam pemodelan spasial ekologi kejadian penyakit DBD, (2) Mengkaji hubungan keruangan atau korelasi spasial antara kejadian penyakit DBD dengan parameter kondisi lingkungan hasil interpretasi citra QuickBird menggunakan spatial statistics analysis dan sistem informasi geografis, (3) Menyusun model spasial ekologi untuk menentukan daerah yang rentan terhadap penyakit DBD berdasarkan hasil analisis hubungan spasial antara kejadian penyakit DBD dengan parameter kondisi lingkungan permukiman hasil interpretasi citra QuickBird dan kondisi lingkungan permukiman secara terestrial, (4) Sistem kewaspadaan dini (SKD) terjadinya KLB berdasarkan model spasial ekologi untuk daerah yang rentan penyakit DBD. Analisis citra QuickBird terdiri dari: interpretasi citra, uji akurasi dan penyajian data spasial parameter lingkungan yang diduga terkait penyakit DBD meliputi:(1) kepadatan permukiman, (2) pola permukiman, (3) jarak permukiman terhadap sungai, (4) jarak permukiman terhadap tempat pembuangan sampah sementara (depo transporter), (5) kepadatan penduduk, dan (6) kondisi cuaca dan iklim (curah hujan, suhu, dan kelembaban). Analisis spasial dilakukan untuk mengetahui bagaimana sebaran kejadian DBD di lingkungan permukiman perkotaam dengan menggunakan metode nearest neighbor index dan spatial autocorrelaiton moran-I index. Selanjutnya dilakukan analisis korelasi spasial antara sebaran kejadian penyakit DBD dengan parameter lingkungan menggunakan metode cross nearest neighbor distance dan bivariate local moran-I. Hasil korelasi spasial digunakan sebagai pembobot dalam melakukan pemodelan spasial untuk menentukan daerah yang rentan terhadap penyakit DBD dengan menggunakan pemodelan indeks, dan pemodelan regresi digunakan untuk prediksi kejadian DBD. Validasi model dilakukan dengan membandingkan hasil pemodelan spasial dengan data aktual kejadian DBD tahun 2011 dan 2012. Hasil penelitian menunjukkan kemampuan dan kontribusi citra Quickbird dalam pemodelan spasial kejadian penyakit DBD, melalui parameter-parameter lingkungan yang dapat diekstraksi dan diinterpretasi dari citra tersebut dengan akurasi yang memadai, yang selanjutnya menjadi basis data spasial dalam sistem informasi geografis untuk pemodelan spasial ekologi, dan menentukan daerah yang rentan terhadap DBD serta prediksi kasus DBD. Sistem Kewaspadaan Dini untuk terjadinya KLB DBD dapat disusun dengan beberapa simpul, yaitu (1) simpul sumber penyakit, (2) simpul media transmisi, (3) simpul kependudukan, (4) simpul kejadian penyakit, serta (5) Faktor lingkungan makro (cuaca dan iklim) berpengaruh terhadap semua simpul
Kata Kunci :