Laporkan Masalah

Karakteristik spasiotemporal curah hujan didaerah perkotaan Yogyakarta sebagai fungsi penutup lahan

Emilya Nurjani,

2015 | Disertasi |

Penelitian ini mempunyai tujuan 1) menganalisis sifat curah hujan secara spasial dan temporal di daerah perkotaan Yogyakarta; 2) menganalisis kandungan kimia air hujan yang jatuh di daerah perkotaan Yogyakarta; dan 3) menganalisis hubungan dan pengaruh penutup lahan terhadap curah hujan di daerah perkotaan Yogyakarta. Metode penelitian menggunakan metode empiris dengan analisis kualitatif dan kuantitatif. Daerah perkotaan Yogyakarta meliputi daerah Kota Yogyakarta hingga wilayah dengan kenampakan morfologi fisik kota. Data yang dianalisis adalah data curah hujan bulanan, musiman, dan tahunan beserta hari hujan dari tahun 1978-2007. Data lain berupa perubahan penggunaan lahan dari beberapa tahun, jumlah penduduk, jumlah kendaraan bermotor, citra TRMM. Pengukuran di lapangan meliputi pengukuran suhu udara dan kelembapan daerah perkotaan Yogyakarta. Analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif, analisis variasi, analisis kecenderungan, analisis periodisitas (wavelet), korelasi dan regresi. Analisis spasial menggunakan metode isohyet, inverse distance weighting (IDW), dan Kriging. Kandungan kimia dalam curah hujan dianalisis menggunakan Cluster analysis dan Factor analysis untuk mengetahui sumber pencemar dominan dalam curah hujan. Hasil penelitian menunjukkan 1). curah hujan di musim kemarau lebih bervariasi dibandingkan curah hujan musim penghujan dan curah hujan tahunan, tidak ada stasiun hujan yang memperlihatkan kecenderungan kenaikan dan penurunan yang signifikan. 2) Curah hujan di sekitar daerah perkotaan Yogyakarta dan curah hujan di daerah tujuan angin (downwind) lebih tinggi dibandingkan daerah tengah kota, walaupun demikian curah hujan di tengah kota Yogyakarta mulai menunjukkan adanya peningkatan. 3) Curah hujan di daerah perkotaan Yogyakarta mengandung kebasaan yang tinggi. Artinya karbon sangat mempengaruhi curah hujan yang turun di daerah penelitian. 4) Fenomena Urban Heat Island yaitu suhu udara yang lebih tinggi dibandingkan daerah sekitarnya dapat diidentifikasi di daerah penelitian. Fenomena tersebut didukung oleh imbangan energi dimana nilai kalor tersimpan sangat tinggi, nilai fluks laten turbulen sangat rendah. Hal ini akan menyebabkan evaporasi menurun dan peningkatan suhu udara. 5). Variabel kepadatan bangunan menunjukkan pengaruh yang sangat besar terhadap curah hujan tahunan, Hal ini ditunjukkan oleh persamaan Y = 2647,076 + 0,001x1 – 14012,7x3 – 7,852x4 – 17,511x5. Artinya jika kepadatan bangunan berkurang 1 satuan maka curah hujan akan berkurang 14012,7, jika suhu udara berkurang 1 satuan maka curah hujan akan berkurang 7,852 dan jika kelembapan berkurang 1 satuan maka curah hujan berkurang 17,511. Nilai korelasi secara umum antara variabel y dengan seluruh variabel bebas (x) ditunjukkan dengan nilai R = 0,710, sedangkan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,504 artinya 50,4% variabel y dapat dijelaskan oleh jumlah bangunan, kepadatan bangunan, suhu udara dan kelembapan udara. Sisanya 49,6% dipengaruhi oleh variabel lain. Kata kunci : spasiotemporal, penutup lahan, UHI, konvektif, downwind

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.