Laporkan Masalah

Pengembangan prototipe infrastruktur data spasial dan sistem informasi geografis untuk manajemen bencana alam : Studi kasus tanggap darurat letusan Gunungapi Merapi di Daerah Istimewa Yogyakarta

Taufik Hery Purwanto,

2015 | Disertasi |

INTISARI Akses dan penggunaan data spasial yang cepat dan akurat berperan penting untuk pengambilan keputusan pada saat tanggap darurat bencana. Semakin cepat mengambil keputusan yang baik akan mengurangi risiko kerugian korban jiwa, meminimalkan jumlah kerusakan bencana dan menghemat biaya pemulihan bencana. Dalam hal ini, keberadaan Infrastruktur Data Spasial (IDS) akan meningkatkan ketersediaan, akses, dan penerapan informasi spasial untuk mendukung pengambilan keputusan. Tujuan penelitian ini adalah: (a) mengkaji IDS di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk manajemen bencana khususnya tanggap darurat letusan Gunungapi Merapi, (b) mengembangkan prototipe IDS dan aplikasi SIG untuk perumusan kebijakan, pengambilan keputusan, dan pelaksanaan kegiatan dalam tahap tanggap darurat letusan Gunungapi Merapi di DIY, dan (c) membuat model kegunaan (usability) IDS dan SIG untuk manajemen bencana khususnya pada tahap tanggap darurat letusan Gunungapi Merapi di DIY. Metode penelitian untuk mengkaji IDS di DIY mencakup 6 elemen IDS, yaitu: data, standar, akses data, kebijakan pemerintah, teknologi, dan sumber daya manusia. Untuk mendapatkan profil IDS dilakukan uji kualitas data, uji sistem, dan penilaian kesiapan dan implementasi elemen IDS khususnya untuk tanggap darurat letusan Gunungapi Merapi di DIY. Analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, and Threat) dilakukan terhadap elemen IDS untuk menyusun strategi dan rekomendasi IDS khususnya dalam tanggap darurat letusan Gunungapi Merapi di DIY. Berdasarkan rekomendasi yang diperoleh maka disusun suatu prototipe IDS dan SIG serta penggunaan IDS dan SIG untuk pengambilan keputusan dalam tanggap darurat bencana alam letusan Gunungapi Merapi di DIY. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar institusi responden (93%) melakukan inventarisasi data kebencanaan baik data spasial maupun data tekstual yang artinya ketersediaan (availability) data baik, tetapi 92% institusi belum menggunakan standar data dan metadata. Aksesibilitas (accessibility) data spasial juga masih lemah, hanya 29,63% basisdata digital yang dapat diakses melalui internet. Kegunaan (usability) data spasial untuk analisis kebencanaan dan untuk pengambilan keputusan dalam manajemen bencana baru mencapai 41,67% dari keseluruhan institusi. Kendala menerapkan IDS adalah lemahnya: akurasi posisi, akurasi tematik, database management, kemudahan akses data, sistem metadata yang digunakan, ketersediaan metada, kemudahan akses metadata, standar bidang geografi/geomatika, interoperabilitas, cara perolehan dan akses data spasial, pemanfaatan geoportal, permasalahan akses data spasial, clearinghouse, dan kelembagaan. Prototipe IDS dan SIG yang berbasis cloud GIS (http://cloudgis-id.com) dapat digunakan untuk pengambilan keputusan untuk tanggap darurat bencana letusan Gunungapi Merapi di DIY, seperti: penentuan daerah rawan letusan Gunungapi Merapi, penentuan jalur evakuasi, dan kesesuaian lokasi shelter. Kata Kunci: Infrastuktur Data Spasial (IDS), Sistem Informasi Geografis (SIG)

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.