Pemodelan pengelolaan infrastruktur hijau : Kasus kawasan Tembaang Semarang
Budi Prasetyo Samadikun,
2015 | Disertasi |Intisari Munculnya fenomena perkembangan kota, merupakan hal yang melatarbelakangi penelitian ini. Kawasan Tembalang sebagai salah satu wilayah perkembangan Kota Semarang dipilih sebagai lokasi penelitian untuk menunjukkan “potret” perkembangan kota yang awalnya berdampak positif tetapi dalam perkembangannya justru menimbulkan dampak negatif yang mengakibatkan degradasi lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji kondisi daya dukung lahan, kondisi infrastruktur hijau, dan menyusun sebuah model pengelolaan infrastruktur hijau. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan menggabungkan metode kuantitatif dan metode kualitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive; teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, wawancara mendalam, FGD, dan observasi. Untuk menganalisis data, menggunakan analisis ambang batas skala Yeates, analisis skoring, grey-green continuum, diagram radar, overlay peta, statistik deskriptif, dan analisis kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daerah penelitian dengan luas wilayah total 896,85 hektar dan jumlah penduduk total 30.221 jiwa, serta daya dukung lahan rata-rata 0,029 hektar/jiwa, secara umum telah melampaui standar ambang batas daya dukung lahan skala Yeates (0,034 hektar/jiwa). Hasil skoring terhadap kondisi eksisting infrastruktur hijau di daerah penelitan menunjukkan bahwa aset transportasi dan air bersih/kotor bernilai baik dan sedang (green and grey-green), aset persampahan dan bangunan bernilai sedang dan buruk (grey-green and grey). Model pengelolaan infrastruktur hijau merupakan model yang didalamnya terdapat tiga variabel utama, yaitu: stakeholder, kegiatan/proses pengelolaan, dan indikator/kriteria pengelolaan. Lebih lanjut, penelitian ini menyimpulkan bahwa skala Yeates tidak memadai untuk pengukuran daya dukung lahan untuk kawasan perkotaan, karena ada pertimbangan aspek infrastruktur yang dapat meningkatkan kondisi daya dukung lahan. Kajian infrastruktur hijau di Kawasan Tembalang menunjukkan beberapa aset yang bernilai sedang dan buruk, yaitu aset persampahan dan aset bangunan. Belum baiknya infrastruktur hijau di Kawasan Tembalang menunjukkan bahwa belum ada pengelolaan yang baik oleh stakeholder, oleh karenanya penelitian ini mengusulkan model pengelolaan kolaborasi antar stakeholder yang berbasis daya dukung lahan dan infrastruktur hijau. Penelitian ini menyarankan bahwa untuk melengkapi aspek penilaian suatu wilayah, tidak cukup hanya mempertimbangkan daya dukung lahan dengan standar Yeates, tetapi perlu juga dipertimbangkan aspek infrastruktur hijau. Dalam pengelolaannya, seluruh stakeholder harus terlibat dalam satu kolaborasi yang setara dalam mengelola aset infrastruktur. Diusulkan penelitian selanjutnya untuk mendapatkan kesepakatan dari stakeholder, agar kemudian dapat diterapkan. Kata kunci: pemodelan, pengelolaan, infrastruktur hijau, Semarang.
Kata Kunci :