Laporkan Masalah

Model kearifan lingkungan masyarakat dalam mengkonservasi keanekaragaman hayati dilahan pekarangan kabupaten Sleman

Suhartini,

2015 | Disertasi |

INTISARI Kearifan lingkungan mempunyai peran penting dalam mengkonservasi keanekaragaman hayati. Oleh karenanya dilakukan penelitian dengan tujuan untuk 1) menggali kearifan lingkungan masyarakat dalam mengkonservasi keanekaragaman hayati di lahan pekarangan, 2) mengkaji faktorfaktor yang mempengaruhi kearifan lingkungan masyarakat dalam mengkonservasi keanekaragaman hayati, 3) memetakan potensi keanekaragam hayati di lahan pekarangan, 4) mengkaji perilaku adaptasi masyarakat dalam melestarikan keanekaragaman hayati di lahan pekarangan berdasar kearifan lingkungan dan 5) dan menyusun model pengelolaan keanekaragaman hayati secara lestari di lahan pekarangan berdasar kearifan lingkungan. Penelitian ini mewakili 4 kawasan berdasarkan kondisi pekarangan, cara mengelola lahan pekarangan, lingkungan kehidupan masyarakat setempat, dan kekhususan wilayah. Kawasan tersebut adalah kawasan dekat hutan, dekat pusat peninggalan budaya, dekat perkotaan dan kawasan berbasis pertanian dan kerajinan. Pengambilan sampel dilakukan dengan gugus bertahap yaitu secara bertahap berdasarkan kawasan, kecamatan, desa dan dusun (Singarimbun dan Effendi, 1989) di mana masingmasing dusun diambil 20 responden. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara menggunakan kuesioner dan wawancara secara mendalam kepada responden dan tokoh masyarakat serta identifikasi keanekaragaman tanaman dan hewan. Selanjutnya dilakukan analisis vegetasi tentang nilai penting dan indeks keanekaragaman jenis ahannon-Wiener, tabulasi silang, regresi linier berganda dan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan:1. Kearifan lingkungan masyarakat dalam mengkonservasi keanekaragaman hayati tercermin dalam mata pencaharian baik yang bersifat menurun maupun karena introduksi tanaman dan hewan, bentuk larangan, anjuran, kebersamaan, kepercayaan dan cara bercocok tanam. Konservasi tanaman dan hewan dilakukan berdasarkan kegiatan budaya, kesehatan, pengelolaan satwa serta filosofi dan/atau Serat Centhini. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kearifan lingkungan masyarakat mencakup status sosial ekonomi, sumberdaya lahan, ekonomi, sosial, budaya, IPTEK, tokoh masyarakat dan kebijakan pemerintah setempat. 3. Potensi keanekaragaman hayati di lahan pekarangan didasarkan pada manfaat dan nilai penting jenis tanaman dan hewan serta keunggulan produk atau kondisi alam di mana produk itu ada seperti desa wisata dan pengembangan potensi desa .4. Perilaku adaptasi masyarakat dalam melestarikan keanekaragaman hayati di lahan pekarangan menyesuaikan perubahan yang ada dan permintaan pasar. Telah terjadi pergeseran jenis tanaman dan hewan yang dibudidayakan ke arah tanaman dan hewan yang bernilai ekonomis, memberi keindahan, kepuasan, dan kenyamanan. 5. Model pengelolaan keanekaragaman hayati di lahan pekarangan meliputi pengelolaan yang bertujuan sebagai sumber pendapatan utama menghasilkan dominasi suatu jenis tanaman dan indeks keanekaragaman jenis tanaman rendah, namun memberikan sumbangan pendapatan tinggi. Pengelolaan yang bertujuan sebagai tambahan pendapatan, keindahan, kepuasan dan kenyamanan menghasilkan indeks keanekaragaman jenis tanaman tinggi, namun memberikan sumbangan pendapatan rendah. Model pengelolaan keanekaragaman hayati di lahan pekarangan berdasar kearifan lingkungan dapat berkelanjutan jika pada lahan pekarangan yang bertujuan untuk sumber pendapatan utama ditambahkan jenis tanaman yang beraneka ragam. Untuk lahan pekarangan sebagai usaha sampingan ditambahkan pemilihan jenis tanaman yang bernilai komersial seperti sayuran, buah-buahan, ataupun budidaya ternak dan ikan. Kata kunci : kearifan lingkungan, konservasi, keanekaragaman hayati, lahan pekarangan

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.