Laporkan Masalah

Kajian spasial keberlanjutan sistem subak yang berlandaskan Tri Hita Karana dikabupaten Badung provinsi Bali

I Putu Sriartha,

2014 | Disertasi |

Sistem subak yang berlandaskan Tri Hita Karana (THK) memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan berkelanjutan. Meningkatnya laju pembangunan ekonomi menimbulkan transformasi wilayah dan kehidupan masyarakat yang berdampak pada eksistensi subak. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Mengwi, Kuta Utara, dan Kuta, Kabupaten Badung yang telah menjadi kawasan Metropolitan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan). Tujuan penelitian adalah : (1) menganalisis pola spasial tingkat keberlanjutan subak ditinjau dari ketahanan THK dan faktor-faktor eksternal yang berpengaruh, (2) menganalisis proses terjadinya perubahan tingkat keberlanjutan subak, (3) menganalisis perbedaan antara karakteristik sosial ekonomi petani dengan tingkat keberlanjutan subak, dan (4) menyusun model zonasi spasial tipe keberlanjutan subak. Untuk mencapai tujuan penelitian pertama, maka 69 subak yang ada ditetapkan sebagai unit analisis penelitian. Data ketahanan THK dikumpulkan dari pekaseh/ketua dan pengurus subak dengan wawancara berkelompok terarah, berdasarkan kuesioner yang telah disiapkan. Data faktor-faktor eksternal dikumpulkan dari peta penggunaan lahan, Podes (Potensi Desa), dan BPS. Untuk mencapai tujuan penelitian kedua dan ketiga, ditetapkan tiga subak sampel yang tingkat keberlanjutannya berbeda. Data dikumpulkan dari informan kunci dan 180 petani di tiga subak sampel. Tujuan penelitian keempat dianalisis berdasarkan hasil dari tujuan penelitian pertama. Analisis data penelitian dilakukan dengan teknik deskriptif, analisis keruangan dengan Sistem Informasi Geografis (SIG), dan teknik statistik (regresi linear berganda, Analytical Hierarchy Process/AHP, dan Chi Square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) tingkat ketahanan THK subak yang tergolong tinggi mencapai 42,0%, tergolong sedang 40,6%, dan tergolong rendah 17,4%. Ketahanan THK menjadi sumber keberlanjutan subak. Dengan demikian, berdasarkan fakta tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan subak cukup mengkuatirkan. Secara spasial tingkat keberlanjutan subak membentuk pola mengelompok. Di zona dekat pusat pariwisata didominasi oleh subak berkelanjutan rendah-sedang, di zona sedang didominasi subak berkelanjutan sedang-tinggi, dan di zona jauh terkonsentrasi subak berkelanjutan tinggi. Peringkat aspek keberlanjutan subak berturut-turut dari yang tertinggi sampai terendah adalah keberlanjutan budaya, sosial, teknis, fisik alami, dan keberlanjutan ekonomi. Secara simultan kelima lima faktor eksternal, yaitu : faktor jarak subak ke pusat pariwisata, kerapatan jalan, keberadaan fasilitas sosial ekonomi, persentase keluarga nonpetani, dan kepadatan penduduk berpengaruh signifikan terhadap keberlanjutan subak (Fh= 76,026 > Ft= 2,36 ; 2,37 pada db = 63 dan taraf signifikansi 10%). Kelima faktor eksternal ini memberi kontribusi pengaruh sebesar 84,7%, sedangkan sisanya 15,3% disebabkan oleh faktor lain di luar lingkup penelitian. (2) Proses perubahan tingkat keberlanjutan subak dipicu oleh perkembangan eksternal berupa infrastruktur jalan, sedangkan pemicu internalnya adalah alih fungsi lahan sawah subak. Pihak yang berperan besar dalam proses perubahan adalah intervensi kebijakan pemerintah dan peran masyarakat bisnis dalam pembangunan. (3) Karakteristik sosial ekonomi petani, yang mencakup umur, pendidikan formal, luas penguasaan lahan sawah, status xix lahan garapan, dan pendapatan usahatani, menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan di masing-masing tingkat keberlanjutan subak (?2 hitung masingmasing variabel > ?2 tabel pada db=4 dan taraf signifikansi 5%. (4) Model zonasi spasial yang dihasilkan penelitian ini adalah model zonasi spasial dominasi tipe keberlanjutan subak. Dominasi tipe subak tidak berlanjut-kurang berlanjut di zona dekat, dominasi tipe subak kurang berlanjut-berlanjut di zona sedang, dan dominasi tipe subak berlanjut di zona jauh. Kata kunci : pola spasial keberlanjutan subak, Tri Hita Karana (THK), pengaruh eksternal.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.