Laporkan Masalah

Model perkembangan fisik kota : Kasus kota Gorontalo tahun 2000 - 2010

Wahyudin Athar Katili,

2014 | Disertasi |

Penelitian yang berfokus pada model perkembangan fisik Kota Gorontalo tahun 2001 – 2010 ini bertujuan (1) Mendeskripsikan perkembangan fisik Kota Gorontalo setelah ditetapkan sebagai Ibukota Provinsi, faktor yang mempengaruhinya serta keterkaitannya dengan infrastruktur pemerintah dan swasta; (2) Melakukan analisis terhadap proses dan tipologi perkembangan fisik Kota Gorontalo; dan (3) Melakukan tinjauan dari aspek keberlanjutan terhadap perkembangan fisik Kota Gorontalo. Pendekatan studi dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan keruangan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Berdasarkan karakteristik objek penelitian, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, berdasarkan karakteristik data dibatasi pada ruang lingkup lokasi yang memiliki ketersediaan data foto udara dan citra satelit dan selanjutnya metode sampling untuk penentuan informan. Berdasarkan analisis data metode yang digunakan adalah kombinasi antara analisis kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Perkembangan fisik Kota Gorontalo ditandai dengan luasan lahan terbangun yang pada tahun 2001 sebesar 31,71%, di tahun 2005 meningkat menjadi 32,3% dan di tahun 2009 meningkat lagi menjadi 34,6%; Periode tahun 2001 – 2005 merupakan periode awal yang masih lebih besar digerakkan dan diintervensi oleh pemerintah daerah yang salah satunya ditinjau faktor eksternal berupa peningkatan alokasi anggaran sampai 300% pada APBN dan kenaikan 250% pada APBD, sedangkan periode tahun 2005 – 2009 merupakan periode yang mulai menurunnya alokasi anggaran pemerintah sebesar 20% pada APBN dan 62% pada APBD; (2) Perkembamgan lahan terbangun, pada periode 2001 – 2005 sebesar 19,86 Ha dan pada periode 2005 – 2009 meningkat lagi 75,04 Ha sehingga dapat diasumsikan peningkatan jumlah lahan terbangun antara periode 5 (lima) tahun pertama ke periode 5 (lima) tahun kedua mencapai 300%; Tipologi perkembangan ini terbagi atas 3 zona, zona III memperlihatkan lahan terbangun yang berbentuk linier berkepadatan rendah mengikuti ruas – ruas jalan yang terbentuk, zona II sebagai pemukiman yang berbentuk linier mengikuti ruas - ruas jalan dengan kepadatan yang cukup tinggi namun masih menyisakan sebagian kawasan belum terbangun dan zona I sebagai pola kota lama yang berbentuk Grid dengan kepadatan yang cukup tinggi; (5) Pola perkembangan lahan terbangun antara tahun 2001-2009 cenderung membentuk pola berkelompok, yang terjadi di Kecamatan Dungingi sedangkan di Kecamatan Kota Utara cenderung membentuk pola menyebar. Sedangkan perkembangan fisik kota antara tahun 2005-2009 cenderung sporadis dengan membentuk pola berkelompok dan menyebar dalam skala besar; Indikasi menunjukkan bahwa pada rentang waktu 2001-2005 sebagai 5 (lima) tahun pertama Ibukota provinsi, maka yang berkembang adalah sarana dan prasarana skala lokal kawasan. Selanjutnya dalam selang waktu 5 (lima) tahun kedua yaitu tahun 2005-2009, mengindikasikan bahwa sarana dan prasarana berskala pelayanan lokal kawasan tetap mendominasi namun mulai ditandai dengan meningkatnya sarana dan prasarana yang brskala pelayanan Kota atau regional; (3) Pada aspek ekonomi, sosial budaya dan lingkungan hidup secara keseluruhan masih memperlihatkkan kecenderungan positif dari tinjauan aspek keberlanjutan kota. Kata Kunci : Keberlanjutan, Perubahan fisik kota, Kota Gorontalo

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.