Laporkan Masalah

Pola keruangan keterkaitan sektor pertanian dengan non pertanian dan konsekuensinya pada strategi penghidupan rumah tangga dikabupaten Semarang

Puji Hardati,

2014 | Disertasi |

Kabupaten Semarang dewasa ini menghadapi masalah perubahan dari kegiatan pertanian ke non-pertanian. Hal ini dikhawatirkan akan memiliki konsekuensi pada penghidupan rumahtangga. Oleh karena itu, dilaksanakan penelitian untuk mengkaji pola keruangan sektor pertanian dan sektor nonpertanian, keterkaitan di antara kedua sektor tersebut, dan menganalisis strategi penghidupan rumahtangga di beberapa desa yang berbeda. Penelitian dilaksanakan dengan metode survei. Unit analisis terdiri dari desa, dan rumahtangga. Populasi sebanyak 235 desa, dianalisis secara sensus, untuk memperoleh pola keruangan sektor pertanian dan non-pertanian; serta keterkaitan fungsional kedua sektor. Untuk mengkaji penghidupan dan strategi penghidupan pada tingkat rumahtangga, dilaksanakan dengan cara sampel. Sampel ditentukan secara purposif nonproporsional dari 4 sampel desa, dan ditarik sampel rumahtangga masing-masing 45 secara random. Pengambilan desa sampel ditentukan dari 4 tipologi diversifikasi perdesaan. Data primer dan sekunder digunakan dalam analisis, digunakan teknik statistik analisis faktor dan korelasi. Disamping itu, hasil analisis disajikan dalam wujud tabel, grafik dan peta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada sektor pertanian dan nonpertanian mempunyai pola mengelompok dan pola acak. Pola mengelompok terjadi pada kombinasi pertanian lahan kering ruminansia dan lahan tegal perikanan darat. Pola acak terjadi pada pertanian campuran tanaman pangan buahbuahan dan peternakan non-ruminansia; berasosiasi dengan kondisi alam, dan kedekatan dengan permukiman. Pada sektor non-pertanian, pola mengelompok terjadi pada tipe diversifikasi perdesaan berasossiasi dengan industri menengah besar, industri kecil rumahtangga, dan perdagangan; pola acak terjadi pada tipe diversifikasi perdesaaan berasosisasi dengan pariwisata; keadaan tersebut terkait dengan aksesibilitas wilayah yang tinggi. Keterkaitan fungsional sektor pertanian dengan non-pertanian terjadi sangat lemah atau footloose, dan secara konsisten berlaku pada semua agregasi. Keterkaitan keruangan, terjadi di dalam desa, ke luar desa, ke luar kecamatan, ke luar kabupaten, dan ke luar provinsi. Jangkauan cakupan tersebut, ada kecenderungan, semakin tinggi agregasi semakin jauh. Terjadi variasi penghidupan rumahtangga di empat desa penelitian, nilai paling tinggi di desa dengan tipe diversifikasi perdesaan berasosiasi pariwisata, paling rendah di desa dengan tipe diversifikasi perdesaan berasosiasi dengan industri menengah besar. Strategi penghidupan rumahtangga di setiap desa dilakukan dengan intensifikasi selaras alam, diversifikasi tumpangsari, kebun campuran; ektensifikasi dengan menyewa lahan, padat tenaga kerja dan input pertanian. Kesimpulan, sektor pertanian dan non-pertanian membentuk pola keruangan mengelompok dan acak. Di antara kedua sektor terjadi keterkaitan fungsional sangat lemah dan keterkaitan keruangan sangat dinamis. Dan ada variasi strategi penghidupan rumahtangga berdasarkan tipe diversifikasi perdesaan. . Kata kunci: Pola keruangan, Keterkaitan pertanian non-pertanian, Diversifikasi perdesaan, Strategi penghidupan rumahtangga

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.