Model spasial ekologis variabilitas lingkungan terhadap dinamika vektor malaria dikabupaten Purworejo provinsi Jawa Tengah
Mursid Raharjo,
2014 | Disertasi |INTISARI Purworejo tersusun dari pesisir dan perbukitan, merupakan wilayah endemis malaria. Angka API (Annual Parasite Incidence) mengalami fluktuasi pada lima tahun terakhir pada rentang 0,45-0,57 dan meningkat menjadi 1,27 (2012). Kasus malaria dipengaruhi oleh vektor malaria, mengalami dinamika distribusi dalam ruang dan waktu. Tujuan disertasi ini adalah mengetahui pola sebaran, tingkat kerentanan wilayah dan pembuatan model variabilitas kualitas lingkungan terhadap dinamika vektor malaria. Penelitian deskriptif analitik dengan longitudinal survey untuk 4 periode musim. Jumlah sampel 34 satuan analisis, dengan Classified Proportional Random Sampling, atas dasar ketinggian dan endemisitas wilayah. Parameter terdiri dari kualitas air, kualitas udara, sosial ekonomi dan kepadatan vektor malaria. Analisis klaster dan diskriminan digunakan untuk uji variabilitas lingkungan dan dinamika vektor. Perhitungan indek dan model matematis digunakan untuk evaluasi kerentanan, prediksi perubahan lingkungan dan kepadatan vektor malaria. Ditemukan sembilan spesies Anopheles yaitu An.balabaensis; An.aconitus; An.barbirostris; An.vagus; An.anullaris; An.kochi; An.maculatus; An.indifinitus; An.subpictus, dua diantaranya An.balabaensis; An.maculatus dinyatakan positip sebagai vektor malaria. Kepadatan vektor bervariasi 1,5?3,40 sp/org/jam. Rentang kualitas air hasil pengukuran pH (6,63-7,2), turbidity (4,8-10,3 NTU), TDS (102,7-154,5 mg/lt), TSS (11,94-26,44 mg/lt), salinitas (0,0023-0,0052 %0), DO (3,7-5,2 mg/lt), Chlorida (5,0-10,1 mg/lt), EC (192,9- 279,4 µmhos/cm), kesadahan (81,2-116,6 mg/ltCaCO3), suhu udara (26,2-29,1 ºC), kelembaban (68,4-86,3 %), kecepatan angin (1,6-3,4 km/jam). Hasil analisis diskriminan menunjukkan faktor lingkungan berpengaruh signifikan terhadap kepadatan vektor adalah TDS (0,737), Chloride (0,943), turbidity (0,733), salinity (0,949), kesadahan (0,755), conductivity (0,523), DO (0,867), pH (0,796), suhu udara (0,837), kelembaban (0,578), kecepatan angin (0,799). MVI menunjukkan pada wilayah endemis malaria terdapat daerah rentan penyebaran malaria kemarau (53%), pancaroba menuju musim penghujan (62%), penghujan 60% dan pancaroba ke musim kemarau 41%. Terdapat korelelasi kuat antara MVI dan kasus malaria,(R, 0,537, p 0,037). Hasil prediksi perubahan lingkungan terhadap kepadatan vektor tertinggi 7,25 nyamuk/org/jam, (ekosistem dataran 0-200 mdpal); 43,47 nyamuk/org/jam, (ekosistem perbukitan 200-400 mdpal); 3,5 nyamuk/org/jam, (ekositem pegunungan 400->700 mdpal). Pola kasus malaria tidak mengalami perubahan, terjadi pada wilayah endemis, berpola klaster. Terjadi perubahan pola kasus malaria secara temporal. Kualitas air dan udara merupakan diskriminan kuat terhadap kemelimpahan vektor. Kerentanan wilayah endemis malaria dengan perhitungan MVI, terjadi berfluktuasi antar musim. Menggunakan model spasial ekologis setiap perubahan parameter kualitas air dan udara menghasilkan kepadatan vektor malaria, yang berpotensi untuk penularan malaria. Keyword : Malaria, MVI, Model Ekologis, Purworejo
Kata Kunci :