Laporkan Masalah

Aplikasi sistem informasi geografis untuk pemetaan daerah bahaya tanah longsor dikecamatan Dlingo kabupaten Bantul

Riza Alfianto,

2016 | Tugas Akhir |

Tanah longsor merupakan peristiwa alam yang terjadi karena adanya pergerakan massa tanah, massa batuan, atau gabungan antara keduanya. Berdasarkan data, bahaya longsor yang tinggi di Indonesia, hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perlu dilakukan pemetaan tingkat bahaya tanah longsor di Kecamatan Dlingo yang merupakan salah satu daerah di Kabupaten Bantul yang memiliki permukaan tanah berbukit. Metode yang digunakan dalam membuat peta bahaya tanah longsor dengan menggunakan metode berjenjang tertimbang dimana disetiap data parameter memiliki nilai pembobot. Nilai pembobot ini merupakan nilai yang diperoleh suatu parameter sesuai dengan pengaruh yang paling dominan terhadat adanya tanah longsor. Pembuatan peta bahaya tanah longsor di Kecamatan Dlingo menggunakan parameter sebagi berikut, yaitu kemiringan lereng, curah hujan, penggunaan lahan, jenis tanah, dan formasi geologi. Hasil dari penelitian ini adalah Peta Bahaya Tanah Longsor Di Kecamatan Dlingo Kabupaten Bantul beserta peta parameter sebagai bahan pembuatan penelitian tersebut. Peta tersebut berisikan informasi-informasi yang memiliki tingkat bahaya longsor tinggi, sedang, dan rendah. Tingkat kelas bahaya longsor tinggi di Kecamatan Dlingo memiliki luas 1531,14Ha. Kelas bahaya longsor sedang memiliki luas 4121,04Ha. Bahaya longsor rendah memiliki luas 337,89Ha. Kelas bahaya longsor tinggi sangat signifikan persebarannya terutama bagian Timur dan Selatan Kecamatan Dlingo yang tersebar di Kelurahan Jatimulyo, Dlingo, Mangunan, Muntuk, dan terdapat di sebagian kecil Kelurahan Temuwuh, dan Terong.

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.