Laporkan Masalah

Aplikasi citra penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk pemetaan tingkat kekritisan lahan kawasan budidaya pertanian kabupaten Sleman tahun 2014

Dessy Ika Wijayanti,

2015 | Tugas Akhir |

Kebutuhan lahan yang semakin meningkat menyebabkan perubahan penggunaan lahan terjadi dari waktu ke waktu. Sebagian besar perubahan penggunaan lahan tidak memperhatikan kemampuan lahan sehingga menyebabkan lahan menjadi kritis atau kehilangan fungsinya sampai pada batas yang diharapkan. Pemetaan lahan kritis kawasan budidaya pertanian di Kabupaten Sleman mempunyai tujuan menghasilkan peta penggunaan lahan dari data penginderaan jauh untuk melakukan analisis penentuan lahan kritis kawasan budidaya pertanian pada kawasan budidaya pertanian dan memetakan agihan tingkat kekritisan lahan pada kawasan budidaya pertanian. Pemetaan lahan kritis kawasan budidaya pertanian di Kabupaten Sleman menggunakan metode pemodelan spasial kuantitatif berjenjang tertimbang di mana setiap parameter mempunyai harkat yang berbeda. Parameter-parameter yang digunakan dalam pemetaan tersebut antara lain kemiringan lereng, agihan batuan, kepekaan erosi, produktivitas pertanian, dan manajemen lahan. Data kepekaan erosi berasal dari data jenis tanah. Data produktivitas pertanian merupakan data berdasarkan jumlah dan luas panen tanaman pertanian padi, jagung, kedelai, ubi, kacang tanah dan kacang hijau. Manajemen lahan dapat diidentifikasi melalui pengunaan lahan yang ada. Data penginderaan jauh citra landsat 8 digunakan untuk memperbarui data penggunaan lahan yang telah ada agar sesuai dengan kenampakan terkini. Hasil pemetaan lahan kritis kawasan budidaya pertanian di Kabupaten Sleman terdapat lima tingkat kekritisan lahan, yaitu kelas tidak kritis 3.448 Ha (6%) , potensial kritis seluas 30.241 Ha ( 52%) , agak kritis 7.838 Ha (13%) , kritis 15.103 Ha (28%) , dan sangat kritis 440 Ha (1%).

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.