Laporkan Masalah

Speleogeomorfologi karst dikecamatan Donomulyo kabupaten Magelang

Muhammad Ainul Labib,

2016 | Tesis |

Bentukan gua di Kecamatan Donomulyo memiliki kenampakan yang bermacam-macam yang diakibatkan oleh proses masa lampau. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis morfologi gua-gua karst dan menganalisis perkembangan gua-gua karst di Kecamatan Donomulyo Kabupaten Malang. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif kuantitatif, dengan memetakan gua terlebih dahulu, gua yang dipetakan sebanyak 16 berupa gua tidak tertekan dan 5 gua di daerah kepesisiran, selain itu terdapat gua-gua yang telah dipetakan sebelumnya. Analisis yang digunakan dalam speleogeomorfologi berupa yaitu analisis spasial, analisis grafis, analisis morfometri, dan analisis morfologi saluran, sedangkan analisis perkembangan lorong gua dengan menggunakan analisis statistik, analisis grafis, dan petrografi. Peta gua tampak atas menunjukan perkembangan lorong tunggal berupa lorong lurus, menyiku, dan berkelok. Pola perkembangan lorong gua yaitu pola percabangan melengkung dan tegak lurus. Kenampakan lorong gua tersebut antara lain lubang ngarai, lorong segi empat, lorong elips berlengkung, lorong segi empat terkontrol perlapisan, lorong elips tidak simetris, kombinasi kekar dan control bidang perlapisan, lorong kekar, atap lorong setengah melingkar dan lorong berbentuk jurang. Bentukan mikro gua antara lain bentukan saku, bentukan lengkuan, lengkungan, lubang, ceruk, alur kecil, bandul, menganyam, dan saluran kelokan. Sedangkan kenampakan ornamen gua antara lain pilar, stalaktit, stalakmit, stalaktit berbentuk kerucut, stalaktit berbentuk moonmilk, batu alir, kanopi, selendang, microgourdam, dan gourdam. Lorong gua yang terbentuk di Kecamatan Donomulyo terbentuk pada kondisi epigenik dan hipogenik di daerah pesisir. Faktor yang dominan membentuk kondisi morfologi lorong gua yaitu adanya faktor struktural, aliran air bawahtanah, dan tektonisme yang mempengaruhi kondisi lorong. Faktor struktural membentuk adanya linement yang berpengaruh terhadap lorong gua. Aliran air bawahtanah membentuk lorong diakibatkan perubahan lorong dari kondisi vadose, epifreatik, dan freatik. Adanya tektonisme mengakibatkan pengangkatan batugamping menjadi beberapa level perkembangan lorong gua, selain itu terdapat adanya runtuhan berupa blok, lempengan, talus, dan lembaran. Perkembangan level lorong gua juga terkait dengan fisiografis permukaan, yang saling terhubung menjadi 5 tingkatan dengan teras marin, antara lain 244-325 mdpl (level 1), 182-244 mdpl (level 2), 111-181 mdpl (level 3), 30-110 mdpl (level 4), dan 0-29 mdpl (level 5). Perkembangan tingkatan V menunjukan batas tingkatan berada di Gua Sengik, tingkatan IV terletak di Gua Jebrot, dan tingkatan II terletak di Gua Banyu, ketiga gua ini merupakan output dari sungai bawahtanah

Kata Kunci :


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.